Polres Selayar Tangkap Dua Orang Adik-Kakak Pengedar Sabu

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Sebanyak dua orang warga Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar hari ini mendekam di ruang tahanan Polres Kepulauan Selayar. Mereka adalah saudara kandung berinisial AG (35) dan HN (32), keduanya ditangkap terkait dugaan penyalahgunaan narkoba.

Kapolres Kepulauan Selayar AKBP Eddy Suryantha Tarigan mengungkapkan bahwa mereka ditangkap atas operasi yang dilaksanakan Sat Narkoba setelah mendapatkan informasi awal.

“Awalnya kita mendengar bahwa AG ini menjual narkotika jenis shabu sehingga anggota kita dilapangan melakukan penyamaran sebagai pembeli, saat pelaku akan melakukan transaksi, anggota kemudian melakukan penangkapan dan didapati 1 sachet shabu seharga 500 ribu,” ucap Eddy.

Selanjutnya dilakukan introgasi asal barang tersebut. Dari keterangan AG dirinya mendapatkan shabu tersebut dari adiknya yakni HN yang saat itu berada di kebun belakang kantor Bupati Selayar, petugas melakukan pengembangan dengan mendatangi lokasi yang dimaksud dan mendapati HN berada di dalam kebun.

“Tanpa perlawanan petugas menangkap dan melakukan penggeledahan, alhasil ditemukan 2 sachet shabu yang disembunyikan didalam lipatan celana dalam pendek pelaku,” ungkap Kapolres.

Usai ditangkap kedua tersangka diamankan ke Ruang Pemeriksaan Sat Narkoba Polres Kepulauan Selayar guna penyidikan lebih lanjut. Adapun dari keterangan tersangka HN bahwa dirinya mendapatkan shabu tersebut dari seorang wanita berinisial SA yang berada didalam Lapas Kelas IIB Selayar.

Masalah penyalahgunaan narkoba di Indonesia saat ini, menurut beberapa pakar, sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Bukan hanya di kalangan remaja di perkotaan, bahkan sudah menjalar ke kalangan anak-anak di daerah pedesaan.

Menurut Suryani, SKp, MHSc dalam tulisannya “Permasalahan Narkoba di Indonesia”, saat ini penyalahguna narkoba di Indonesia sudah mencapai 1,5% penduduk Indonesia atau sekitar 3,3 juta orang. Dari 80% pemuda, sudah 3% yang mengalami ketegantungan pada berbagai jenis narkoba.

Bahkan menurut data BNN, setiap hari, 40 orang meninggal dunia di negeri ini akibat over dosis narkoba. Angka ini bukanlah jumlah yang sebenarnya dari penyalahguna narkoba. Angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar.

Menurut Dr. Dadang Hawari (dalam tulisannya Penyalahgunaan dan ketergantungan NAZA (Jakarta: Balai Penerbit FKUI 2002), fenomena penyalahgunaan narkoba itu seperti fenomena gunung es. Angka yang sebenarnya adalah sepuluh kali lipat dari jumlah penyalahguna yang ditemukan.

Pemerintah melalui berbagai instansi, telah mencoba untuk mencegah dan membasmi peredaran narkoba di Indonesia. Sudah banyak terpidana kasus narkoba baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri divonis mati oleh pengadilan.

Miris memang, setiap tahun jumlah penyalahguna narkoba justru terus bertambah, baik yang digolongkan sebagai pecandu, yakni orang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan secara fisik dan psikis. Maupun sebagai korban penyalahgunaan narkoba, yakni seseorang yang tidak sengaja menggunakan narkotika karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa atau diancam untuk menggunakan narkotika.

Narkoba pada dasarnya berfungsi sebagai obat atau bahan yang dapat dimanfaatkan dalam pengobatan medis, pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun kemudian disalahgunakan di luar indikasi medis dan tanpa petunjuk atau resep dokter. Penyalahgunaan ini dikarenakan efeknya yang dapat menimbulkan rasa nikmat, rileks, senang, dan tenang.

Perasaan itulah yang dicari oleh para para pemakai meskipun setelah itu mereka seringkali merasa cemas, gelisah, nyeri otot, dan sulit tidur. Selanjutnya, karena digunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan seksama, pemakaian narkoba menimbulkan ketergantungan.

Jika hal ini tidak segera diatasi, dikhawatirkan aksi penyalahgunaan narkoba akan semakin meluas dan memakan korban lebih banyak lagi serta berekses pada hancurnya suatu generasi. Mengingat dampaknya yang sangat berbahaya itu, tentu kita semua akan sepakat untuk memerangi narkoba, dari hulu  (pemerintah) ke hilir (masyarakat)  sebagaimana selama ini kita memerangi tindak kejahatan lain, korupsi dan terorisme misalnya. Untuk menanggulanginya, diperlukan komitmen, kerja keras, sinergitas, koordinasi, dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan.

Penulis : Sumarwan

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password