Disinyalir Jadi Tempat Transaksi Narkoba, Polres Sidrap Amankan Dua Pria di Desa Bulo Wattang

1414575shutterstock-190160534780x390

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Satuan Reserse Narkoba Polres Sidrap berhasil mengamankan dua pria yang diduga terlibat penyalahgunaan Narkotika jenis sabu di salah satu rumah yang berlokasi di Desa Bulo Wattang Kecamatan Panca rijang Kabupaten Sidrap, Minggu (13/8/17) Malam.

Artikel, Disinyalir Jadi Tempat Transaksi Narkoba, Polres Sidrap Amankan Dua Pria di Desa Bulo WattangKasat Narkoba Polres Sidrap AKP Indra Waspada Yuda mengatakan, kedua pelaku berinsial “S” (25) dan “A” (19) diamankan saat tengah kedapatan menyimpan barang haram tersebut.

“Bersama tersangka, turut diamankan barang bukti berupa sachet plastik bening yang diduga berisi narkotika jenis shabu seberat 10 gr, timbangan digital dan Handphone milik terduga.” ujar Indra

Kedua pelaku ditangkap setelah tim Satuan Reserse Narkoba mendapat informasi dari masyarakat yang menyebutkan bahwa disebuah rumah sering dijadikan sebagai tempat transaksi sabu-sabu.

“Nah, berdasarkan laporan tersebut, selanjutnya tim kami kemudian melakukan penyelidikan dan dilanjutkan dengan penangkapan serta pengeledahan di dalam rumah yang dicurigai tersebut,” lanjutnya

Ia melanjutkan, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kedua tersangka telah diamankan di Mapolres Sidrap guna penyelidikan dan pengembangan selanjutnya.

“Saat ini polisi masih melakukan pengembangan untuk mengejar bandar besarnya,” tukas Indra.

Masalah penyalahgunaan narkoba di Indonesia saat ini, menurut beberapa pakar, sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Bukan hanya di kalangan remaja di perkotaan, bahkan sudah menjalar ke kalangan anak-anak di daerah pedesaan.

Menurut Suryani, SKp, MHSc dalam tulisannya “Permasalahan Narkoba di Indonesia”, saat ini penyalahguna narkoba di Indonesia sudah mencapai 1,5% penduduk Indonesia atau sekitar 3,3 juta orang. Dari 80% pemuda, sudah 3% yang mengalami ketegantungan pada berbagai jenis narkoba.

Bahkan menurut data BNN, setiap hari, 40 orang meninggal dunia di negeri ini akibat over dosis narkoba. Angka ini bukanlah jumlah yang sebenarnya dari penyalahguna narkoba. Angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar.

Menurut Dr. Dadang Hawari (dalam tulisannya Penyalahgunaan dan ketergantungan NAZA (Jakarta: Balai Penerbit FKUI 2002), fenomena penyalahgunaan narkoba itu seperti fenomena gunung es. Angka yang sebenarnya adalah sepuluh kali lipat dari jumlah penyalahguna yang ditemukan.

Pemerintah melalui berbagai instansi, telah mencoba untuk mencegah dan membasmi peredaran narkoba di Indonesia. Sudah banyak terpidana kasus narkoba baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri divonis mati oleh pengadilan.

Miris memang, setiap tahun jumlah penyalahguna narkoba justru terus bertambah, baik yang digolongkan sebagai pecandu, yakni orang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan secara fisik dan psikis. Maupun sebagai korban penyalahgunaan narkoba, yakni seseorang yang tidak sengaja menggunakan narkotika karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa atau diancam untuk menggunakan narkotika.

Narkoba pada dasarnya berfungsi sebagai obat atau bahan yang dapat dimanfaatkan dalam pengobatan medis, pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun kemudian disalahgunakan di luar indikasi medis dan tanpa petunjuk atau resep dokter. Penyalahgunaan ini dikarenakan efeknya yang dapat menimbulkan rasa nikmat, rileks, senang, dan tenang.

Perasaan itulah yang dicari oleh para para pemakai meskipun setelah itu mereka seringkali merasa cemas, gelisah, nyeri otot, dan sulit tidur. Selanjutnya, karena digunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan seksama, pemakaian narkoba menimbulkan ketergantungan.

Jika hal ini tidak segera diatasi, dikhawatirkan aksi penyalahgunaan narkoba akan semakin meluas dan memakan korban lebih banyak lagi serta berekses pada hancurnya suatu generasi. Mengingat dampaknya yang sangat berbahaya itu, tentu kita semua akan sepakat untuk memerangi narkoba, dari hulu  (pemerintah) ke hilir (masyarakat)  sebagaimana selama ini kita memerangi tindak kejahatan lain, korupsi dan terorisme misalnya. Untuk menanggulanginya, diperlukan komitmen, kerja keras, sinergitas, koordinasi, dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan.

Penulis : Sumarwan

Editor : Umi Fadilah

Publish: Sumarwan

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password