Pungli di Dinas Tata Ruang Kota Makassar, Polisi OTT Kepala Seksi Pengawasan dan Pengaduan

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Polrestabes Makassar melaksanakan press release Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap pelaku pungutan liar yang beraksi di Kantor Tata Ruang Kota Makassar, Kamis (10/8/17) pukul 20.00 wita.

Dalam kegiatan tersebut Wakapolrestabes Makassar AKBP C.F Hotman Sirait SIK selaku ketua UPP kota Makassar memimpin langsung press release didampingi Kasat Reskrim, Kanit Tipikor Polrestabes Makassar dan perwakilan Ombudsman Prov. Sulsel.

Kepada wartawan, AKBP C.F Hotman Sirait SIK menjelaskan bahwa Tim UPP Kota Makassar telah menangkap salah satu pegawai dinas tata ruang kota Makassar. Berawal dari pengaduan warga ke ombudsman perwakilan Sulsel, kemudian ombudsman melaporkan kepada tim UPP kota Makassar bahwa diduga adanya pungutan liar.

Motif pelaku AA yang juga menjabat sebagai kepala Seksi Pengawasan dan pengaduan di Dinas Tata Ruang Makassar mengiming-imingkan kepada Sdr. R akan diberi perubahan perijinan dari ruko menjadi resto dengan membayar uang 15 juta rupiah.

Kemudian sekitar pukul 17.20 wita di jl. Hasanuddin Makassar pelaku AA ditangkap oleh Tim UPP Kota Makassar.

Dari hasil OTT tersebut telah diamankan barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 4.500.000,- dan dua buah handphone.

Pungutan liar merupakan perbuatan-perbuatan yang disebut sebagai perbuatan pungli sebenarnya merupakan suatu gejala sosial yang telah ada di Indonesia, sejak Indonesia masih dalam masa penjajahan dan bahkan jauh sebelum itu.

Namun penamaan perbuatan itu sebagai perbuatan pungli, secara nasional baru diperkenalkan pada bulan September 1977, yaitu saat Kaskopkamtib yang bertindak selaku Kepala Operasi Tertib bersama Menpan dengan gencar melancarkan Operasi Tertib (OPSTIB), yang sasaran utamanya adalah pungli.

Pungutan liar juga termasuk dalam kategori kejahatan jabatan, di mana dalam konsep kejahatan jabatan di jabarkan bahwa pejabat demi menguntungkan diri sendiri atau orang lain, menyalahgunakan kekuasaannya untuk memaksa seseorang untuk memberikan sesuatu, untuk membayar atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri.

Istilah lain yang dipergunakan oleh masyarakat mengenai pungutan liar atau pungli adalah uang sogokan, uang pelicin, salam tempel dan lain lain. Pungutan liar pada hakekatnya adalah interaksi antara petugas dengan masyarakat yang didorong oleh berbagai kepentingan pribadi (Soedjono, 1983:15).

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang melakukan pungutan liar, yaitu:

  1. Penyalahgunaan wewenang. Jabatan atau kewenangan seseorang dapat melakukan pelanggaran disiplin oleh oknum yang melakukan pungutan liar.
  2. Faktor mental. Karakter atau kelakuan dari pada seseorang dalam bertindak dan mengontrol dirinya sendiri.
  3. Faktor ekonomi. Penghasilan yang bisa dikatakan tidak mencukupi kebutuhan hidup tidak sebanding dengan tugas/jabatan yang diemban membuat seseorang terdorong untuk melakukan pungli.
  4. Faktor kultural & Budaya Organisasi. Budaya yang terbentuk di suatu lembaga yang berjalan terus menerus terhadap pungutan liar dan penyuapan dapat menyebabkan pungutan liar sebagai hal biasa.
  5. Terbatasnya sumber daya manusia.
  6. Lemahnya sistem kontrol dan pengawasan oleh atasan.

Penulis : Abu Uwais

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password