Asik Pesta Narkoba di Salon, Lima Warga Bone Ditangkap Polisi, Tiga Diantaranya Wanita

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Jajaran Kepolisian Resort (Polres) Bone berhasil mengamankan lima warga yang kedapatan langsung oleh petugas sedang asik berpesta narkoba di salah satu salon di jalan Salak, Kelurahan Macege, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Senin (7/8/17) sekitar pukul 19.15 Wita.

Lima warga itu diketahui berinisial SF (25) warga Desa Passippo Kecamatan Palakka, AF (40) Desa Passempe, Kecamatan Palakka, IA (22) warga jalan Veteran, Watampone, FS (21) sebagai karyawan salon asal jalan Jenderal Sudirman, Watampone dan NV (17) karyawan salon, warga jalan Andi Ali Petta Cenrana, Watampone.

Ironisnya, tiga dari lima orang tersebut adalah perempuan, salah satunya masih di bawah umur.

Penggerebekan tersebut berawal dari laporan salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, bahwa di Salon itu kerap dijadikan tempat pesta narkoba. Menerima laporan tersebut aparat berpakaian preman kemudian melakukan penyelidikan dan betul 5 orang warga ditemukan sedang asik pesta narkoba jenis sabu di sebuah ruangan.

“Penangkapan itu bermula dari laporan warga yang menduga salon tersebut kerap dijadikan tempat pesta narkoba, setelah dilakukan penyelidikan dan betul 5 orang ditemukan sedang asik pesta narkoba,” ujar Kapolres Bone Akbp Muhammad Kadarislam Kasim saat menggelar press realese di hadapan awak media, Selasa (8/8)

Hasil penggerebekan, aparat menyita barang bukti berupa satu buah kaca pirex berisi sisa serbuk diduga shabu, set alat hisap bong, dua potong pipet hisap, satu sendok takar, dua lembar plastik klip bening kosong, tiga buah korek gas dan enam unit hp berbagai merk.

Dilakukan pengembangan, aparat mendatangi kediaman EM yang diduga sebagai tempat  membeli barang haram tersebut, namun EM tidak berada di rumahnya.

“EM yang diduga bandar tidak berada di rumahnya dan saat ini masih dalam pengejaran,” kata Kapolres.

Kadarislam mengapresiasi kinerja anggotanya yang dengan cepat merespon laporan masyarakat dan berhasil mengamankan lima orang pelaku penyalah gunaan narkoba.

“Saat ini kita betul-betul sudah darurat narkoba, Jika ada bandar narkoba yang melawan, tembak saja,” tegas Kapolres.

Masalah penyalahgunaan narkoba di Indonesia saat ini, menurut beberapa pakar, sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Bukan hanya di kalangan remaja di perkotaan, bahkan sudah menjalar ke kalangan anak-anak di daerah pedesaan.

Menurut Suryani, SKp, MHSc dalam tulisannya “Permasalahan Narkoba di Indonesia”, saat ini penyalahguna narkoba di Indonesia sudah mencapai 1,5% penduduk Indonesia atau sekitar 3,3 juta orang. Dari 80% pemuda, sudah 3% yang mengalami ketegantungan pada berbagai jenis narkoba.

Bahkan menurut data BNN, setiap hari, 40 orang meninggal dunia di negeri ini akibat over dosis narkoba. Angka ini bukanlah jumlah yang sebenarnya dari penyalahguna narkoba. Angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar.

Menurut Dr. Dadang Hawari (dalam tulisannya Penyalahgunaan dan ketergantungan NAZA (Jakarta: Balai Penerbit FKUI 2002), fenomena penyalahgunaan narkoba itu seperti fenomena gunung es. Angka yang sebenarnya adalah sepuluh kali lipat dari jumlah penyalahguna yang ditemukan.

Pemerintah melalui berbagai instansi, telah mencoba untuk mencegah dan membasmi peredaran narkoba di Indonesia. Sudah banyak terpidana kasus narkoba baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri divonis mati oleh pengadilan.

Miris memang, setiap tahun jumlah penyalahguna narkoba justru terus bertambah, baik yang digolongkan sebagai pecandu, yakni orang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan secara fisik dan psikis. Maupun sebagai korban penyalahgunaan narkoba, yakni seseorang yang tidak sengaja menggunakan narkotika karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa atau diancam untuk menggunakan narkotika.

Narkoba pada dasarnya berfungsi sebagai obat atau bahan yang dapat dimanfaatkan dalam pengobatan medis, pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun kemudian disalahgunakan di luar indikasi medis dan tanpa petunjuk atau resep dokter. Penyalahgunaan ini dikarenakan efeknya yang dapat menimbulkan rasa nikmat, rileks, senang, dan tenang.

Perasaan itulah yang dicari oleh para para pemakai meskipun setelah itu mereka seringkali merasa cemas, gelisah, nyeri otot, dan sulit tidur. Selanjutnya, karena digunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan seksama, pemakaian narkoba menimbulkan ketergantungan.

Jika hal ini tidak segera diatasi, dikhawatirkan aksi penyalahgunaan narkoba akan semakin meluas dan memakan korban lebih banyak lagi serta berekses pada hancurnya suatu generasi. Mengingat dampaknya yang sangat berbahaya itu, tentu kita semua akan sepakat untuk memerangi narkoba, dari hulu  (pemerintah) ke hilir (masyarakat)  sebagaimana selama ini kita memerangi tindak kejahatan lain, korupsi dan terorisme misalnya. Untuk menanggulanginya, diperlukan komitmen, kerja keras, sinergitas, koordinasi, dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan.

Penulis : Bara

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password