Polda DIY Gelar Diklat Wawasan Kebangsaan dan Keistimewaan DIY

tribratanews.polri.go.id -Jogja, saat ini, dunia memasuki era global. Tujuan perang sudah bukan perang konvensional, tetapi lebih kepada perang untuk memanfaatkan sumber daya yang ada. Sekarang perangnya melalui perang ideologi, perang intelijen dan lain lain.

Hal ini yang dikatakan oleh Kepala Sekolah Polisi Negara (Ka SPN) Selopamioro Polda DIY, AKBP Farid Zulkarnain, S.I.K saat menjadi Narasumber Diklat ideologi Pancasila, Wawasan Kebangsaan dan Keistimewaan DIY Tahun 2017, Kepada Para Pejabat Struktural Eselon III Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta, di Aula Gedung Obvit, Jumat (4/8/2017).

Menurut AKBP Farid, berkaitan masalah Narkoba, Jogja sendiri merupakan daerah penyaluran Narkoba, Jogja merupakan kota Pelajar. Sasaran utama peredaran Narkoba yaitu kepada pelajar. Jogja bukan sebagai daerah penyalur, tapi sebagai daerah pengguna.

“Paling banyak sabu dan ganja, rata rata para pengguna membeli dari daerah luar. Mereka pakai kurir (dalam transaksinya). Ini sangat ironis,” kata AKBP Farid kepada sekitar 40an peserta.

AKBP Farid menambahkan, menurut data Kepolisian tahun 2016, pemakai narkoba kurang lebih 5,1 juta orang, dan dari itu sekitar 15ribu orang meninggal setiap tahunnya.

“Upaya kita sudah dilakukan (dalam pemberantasan maupun pencegahan peredaran Narkoba). Tingkat sekolah ada kegiatan mos misalnya. Kita sudah masuk kesana. Sudah melakukan penyuluhan tentang akibat atau dampak menggunakan Narkoba,” terang AKBP Farid.

“Kita juga memberikan contoh (bentuk barangnya), misal, ganja itu seperti apa. Ekstasi itu seperti apa. Dampaknya pun seperti apa,” sambungnya.

Terkait masalah patroli, AKBP Farid mengatakan bahwa salah satu tugas Polri adalah Harkamtibmas. Bahwa patroli sudah menjadi tugas pokok. Tetapi saat ini kendalanya, luas wilayah disuatu daerah kadang tidak sesuai dengan jumlah Polisi yang ada.

“Idealnya 1: 350. Maksudnya, 1 polisi mengamankan 350 masyarakat sipil. Patroli ini Tidak hanya anggota yang berseragam tapi ada juga anggota yang tidak berseragam. Hanya mungkin Kapolsek (setempat) mempunyai skala prioritas. Dimana tempat tempat yang berpotensi wilayah rawan,” ujar Farid.

Terkait masalah penggunaan media sosial, AKBP farid berujar bahwa pelaku pelaku teroris, saat ini mereka belajar membuat bom dari media sosial. Sekarang perkembangan media sosial sangat pesat. Dia berharapkan bahwa media sosial sekarang ini diisi dengan konten Positif.

“Jangan bangga dengan anak yang pintar karena belajar dari Youtube, banggalah anak anda pintar karena dari Gurunya sendiri,” tegas AKBP Farid mengakhiri.

penulis : Dhenny
editor : Umi Fadilah
publish : Jay

Admin Polri56608 Posts

tribratanews.polri.go.id "Portal Berita Resmi Polri : Obyektif - Dipercaya - Patisipatif"

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password