Polri Ungkap Kasus Kejahatan Pangan, Negara Dirugikan Ratusan Triliun

Tribratanews.polri.go.id – Polda Bali, Kesuksesan Polri dalam mengungkap kasus-kasus besar patut diapresiasi dan diancungi jempol. Tim Satgas Pangan yang dipimpin Irjen Pol. Setyo Wasisto berhasil mengungkap kasus kejahatan pangan yang dilakukan oleh PT. Indo Beras Unggul (IBU) di Bekasi, Jawa Barat pada Jumat (21/7) lalu.

“Tindakan yang dilakukan oleh PT. IBU merupakan kejahatan pangan. Apapun bentuknya harus dibongkar dan dihentikan,” tegas Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Rikwanto, Sabtu (22/7).

Karo Penmas menambahkan, varietas padi IR64, Ciherang dan Impari merupakan varietas yang sekelas (setara), hanya namanya yang berbeda. Pemberian subsidi kepada petani dilakukan dalam bentuk pupuk, alsintan, benih dan lain-lain untuk menghasilkan beras yang berasal dari varietas IR64 atau yang setara seperti Ciherang dan Impari. Beras jenis premium maupun medium sebenarnya berasal dari Ciherang dan Impari yang sekelas dengan IR64 yang isi kandungan karbohidratnya tidak akan berubah setelah dilakukan proses pemolesan.

“Beras tersebut dibeli oleh PT. IBU dari petani dengan harga Rp. 7.000/kg, selanjutnya beras-beras tersebut dilakukan pemolesan dan dijual dengan harga Rp. 20.400/kg, sehingga dari hasil penjualan PT. IBU meraup keuntungan 200%,” imbuhnya.

Brigjen Pol. Rikwanto menyatakan negara dirugikan akibat perilaku seperti ini, uang negara dibelanjakan untuk membantu produksi petani, namun petani tidak menikmati. Produk dari petani diolah oleh perusahaan sedemikian rupa menjadi premium dan dijual harga tinggi kepada konsumen sehingga berdampak pada inflasi. “Kemudian keuntungan ratusan triliun yang diperoleh yaitu keuntungan yang dinikmati oleh seluruh middle man untuk sembilan bahan pokok, bukan keuntungan PT. IBU saja,” bebernya.

Terkait masalah HET (Harga Eceran Tertinggi), pada tahun 2016 sudah diterbitkan Permendag Nomor 63/M-DAG/PER/09/2016 dengan harga acuan beras di petani Rp 7.300/kg dan di konsumen Rp 9.500/kg. Selanjutnya pada Juli 2017 diterbitkan Permendag Nomor 47/M-DAG/PER/7/2017 dengan harga acuan beras di petani Rp 7.300/kg dan di konsumen Rp 9.000/kg.
“Besaran HET Permendag tersebut telah melalui kajian dan evaluasi mendalam. Yang menjadi sumber masalah adalah keuntungan yang sangat besar yang diperoleh PT. IBU yang diambil dari beras subsidi,” terangnya.

Penulis : Bina Wartawan

Editor : Umi Fadilah

Publish : Adhitya Yoga

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password