Ini Suasana Nonbar Wawancara Khusus Kapolri dengan Kompas TV di Cafe KPK Tolitoli

c5f61b72-fc04-4908-8e3c-f20e688d6d0b

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulteng, Tolitoli. Terkait isu yang beredar di masyarakat mengenai kriminalisasi Ulama dan siapa Jenderal di balik kasus Novel Baswedan, Kapolri menjawab pada wawancara khusus bersama Pimpinan Harian Kompas, Budiman Tanuredjo, Sabtu, (8/7/2017) pukul 21.00 WITA.

10256c29-fae0-4bbe-86e2-b5caf37531f1

Seluruh jajaran Kepolisian di Indonesia menggelar kegiatan nonton bareng untuk mendengarkan langsung penjelasan dari orang nomor 1 di Kepolisian Negara Republik Indonesia ini, termasuk Polres Tolitoli, yang menggelar nonton bareng di warkop KPK, jalan Ladapi, kelurahan Tuweley, kecamatan Baolan, Tolitoli, termasuk juga dengan Polsek jajarannya.

Terlihat hadir pada kegiatan itu Kapolres Tolitoli, AKBP M. Iqbal Alqudusy SH SIK, Wakapolres Tolitoli, pejabat utama Polres Tolitoli, beberapa orang anggotanya yang sedang tidak berdinas, serta warga masyarakat.

IMG-20170709-WA0028

Dengan hanya menggunakan sebuah projector, disuguhkan segelas kopi, nampak mereka sangat serius menyaksikan dialog antara pimpinan paling tinggi dari Polri dan Kompas TV itu.

Dalam dialog bersama Kapolri ini, Budiman menanyakan beberapa hal, termasuk Satgas Pangan yang berhasil menjaga kestabilan harga bahan pangan pra dan pasca Idul Fitri, Terorisme, dan juga isu yang beredar mengenai kriminalisasi Ulama dan kasus Novel Baswedan.

Di awal diskusi, Kapolri memberikan penjelasan kepada Budiman terkait keberhasilan Polri dalam menjaga kestabilan harga pangan, dari hasil diskusi Kapori bersama dengan Mentri Pertanian, Mentri Perdagangan, ketua KPPU, dan Mentri BUMN, mendapatkan gambaran bahwa suply cukup, baik yang bisa diproduksi dari dalam negeri seperti beras, gula, dan bawang merah, ataupun yang belum pasti bisa dipenuhi seperti bawang putih, suply-nya cukup.

“Permasalahan adalah di distribusi, karena adanya mafia, kartel, spekulan, yang mereka menimbun, menampung, pada saat langka kemudian mereka keluarkan dengan harga yang lebih tinggi. Ini kriminal, sehingga kita sepakat untuk mengadakan video converence, yang dihadiri oleh Gubernur masing-masing di Polda, dengan mengundang seluruh stake holder”, jelas Kapolri.

Dalam video Converence itu, Kapolri meminta kepada Kapolda untuk mengundang Kepala Dinas Pertanian, Perdagangan, KPPU, dan semua stake holder. Di Mabes Polri dibentuk Satgas Pangan yang dipimpin oleh Kadiv Humas, Irjen Pol Setyo Wasisto, “Di Provinsi saya menegaskan Direktorat Kriminal Khusus untuk menjadi Kasatgas diawasi oleh Kapolda, kemudian di tingkat Kabupaten, Kasat Sersenya diawasi oleh Kapolres, kalau ada suatu Provinsi yang terjadi kenaikan harga sembako dan kemudian dari Polda tidak melakukan langkah apa-apa, Direktur Resersenya akan saya copot, Kapoldanya akan saya evaluasi”, tegas Kapolri.

Kemudian berlanjut ke masalah terorisme, Budiman mengatakan ke Kapolri bahwa ada perubahan serangan teror dari peladakan bom, menjadi personal attack, Kapolri dengan tegas menyampaikan bahwa dirinya tidak menginginkan terjadinya terorisme, “segera lakukan langkah-langkah deteksi yang lebih ketat, dan bergerak, tangkap! kira-kira sudah ada rencana, tangkap aja, paling tidak kalau kita tidak bisa proses, kita bisa memberikan message bahwa, I watch you”.

Pasca Bom Kampung Melayu, Kapolri mengungkapkan bahwa dengan langkah-langkah itu, saat ini sudah ada 50 lebih orang yang ditangkap di berbagai daerah Medan, Jambi, Jawa Barat, Tengah, Timur, Bima, Sulawesi, Kalimantan, “saya berharap dengan langkah-langkah itu bisa menekan rencana-rencana terorisme, tapi kemudian terjadi peristiwa yang di Blok M”.

Terkait perubahan Pola dari peledakan bom menjadi personal attack kepada Kepolisian, Kapolri menjelaskan bahwa hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia saja, “kelompok-kelompok ini adalah pendukung ISIS, mereka ini berbasis pada ideologi Takfiri, beda dengan Al Qaeda, Takfiri ini konsep utamanya adalah Tauhid, yaitu segala sesuatu harus berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa, yang bukan berasal dari Tuhan, bagi mereka dianggap bid’ah, jadi kalau kelompok tidak memiliki Tuhan yang sama, dianggap kafir, juga halal untuk dibunuh, kalau seandainya barang, halal untuk dihancurkan”, jelas Kapolri.

Dalam konsep pemikiran mereka, ada kafir yang bukan kelompok itu, dibagi lagi menjadi kafir harbi dan kafir dzimmi. Kafir harbi adalah yang menyerang kepada mereka, sehingga bagi mereka kelompok kafir harbi ini harus diserang duluan, “kebetulan di Indonesia penanganan terorisme ujung tombaknya adalah Kepolisian, sehingga otomatis bagi mereka Polisi ini harus dilemahkan duluan”, ujar Kapolri.

Kapolri melihat ada fenomena baru dalam terorisme ini, ada terorisme yang dilakukan oleh kelompok yang terstruktur, ini memiliki pemimpin, ada juga yang disebut dengan leaderless jihad, mereka melakukan teror melalui internet, “diperlukanlah kekuatan cyber nasional termasuk di Polri sendiri harus kuat untuk melakukan internet patrol di jaringan maya, mampu mendeteksi mana situs radikal, grup-grup radikal yang mereka saling berkomunikasi cara membuat bom, jadi intelejen dunia maya harus kuat setelah itu baru operasi lapangan”.

Kapolri menjelaskan bahwa teroris itu membutuhkan media, jika aksi mereka terekspose oleh media, mereka merasa sukses. Di media sosial, Budiman mengatakan bahwa isu yang beredar mengenai aksi terorisme ini adalah sebuah permainan.

Kapolri menanggapi hal ini bahwa, yang pertama mungkin karena ketidak tahuan mereka tentang dunia terorisme, yang kedua adalah yang memiliki kepentingan tersendiri untuk menjatuhkan Polri, dan ada juga dari kelompok-kelompok teroris, bahwa mereka juga memiliki kekuatan di dunia cyber atau media, yang bagi mereka disebut dengan cyber jihad. Tugas mereka adalah membesarkan kasus terorisme dan menjatuhkan Polri.

Selanjutnya Budiman mengatakan bahwa ada kritikan-kritikan terhadap Kepolisian yang muncul terkait kriminalisasi Ulama. Kapolri melihat ini sebagai upaya untuk offensive atau defensive terhadap langkah-langkah hukum yang dilakukan Kepolisian, “bahasa kriminalisasi itu artinya dikonotasikan kepada berusaha mempidanakan sesuatu yang tidak ada aturan hukumnya, dan tidak ada faktanya” jelas Kapolri.

Kapolri menjelaskan bahwa ada perbuatan-perbuatannya, ada yang dikenakan pasal makar, ada yang dikenakan pasal pornografi, “pasal makar apakah ada faktanya? faktanya ada, makar itu adalah berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah, ada rekamannya, ada saksi-saksinya, ada pertemuannya, fakta-faktanya ada, keterangan tersangka juga ada. Pornografi, apakah ada faktanya? ada, gambarnya juga ada, handphone-nya juga ada, apakah gambar-gambar ini palsu? ahli IT mengatakan ini bukan palsu, ahli antropometrik mengatakan betul, bisa dipertanggung jawabkan di persidangan, apakah ada pasalnya? ada, pasal pornografi, seorang yang memproduksi pornografi kemudian dikirim kepada yang lain, si pembuat dan penerima bisa kena, pornografi memang bukan untuk konsumsi publik”.

Kesimpulannya, Kapolri menganggap kasus ini dibuat agar Polisi dianggap main hakim sendiri atau menggunakan politik hukum, Kapolri menegaskan bahwa kita berlaku asas persamaan di muka hukum tanpa melihat status sosial, jenis kelamin, ataupun pangkat dan jabatan.

Selanjutnya mengenai kasus Novel Baswedan bahwa ada Jenderal di belakang kasusnya, Kapolri berpendapat bahwa yang dikatakan oleh saudara Novel merupakan sebuah isu, hal itu didasarkan karena tidak ada saksi dan alat bukti yang lain, sesuai dengan pasal 184 KUHAP harus ada 5 alat bukti yang sah, minimal 2.

Saat ini kepolisian masih mencari bukti-bukti yang bisa membuat isu ini menjadi fakta, dan apabila isu ini tidak dibuktikan dengan fakta-fakta maka isu ini akan di drop.

Di akhir wawancara khusus ini, Budiman sempat menyinggung tentang di akhir karir Kapolri nanti terobsesi dengan politik, “saya sama sekali tidak tertarik, sejak lahir saya tidak memiliki gen politik, pungkas Kapolri.

Tak hanya Polres Tolitoli, Polsek jajaran juga melakukan kegiatan nonton bareng yang sama sebagai bentuk loyalitas terhadap pimpinan disamping mereka ingin mendengarkan langsung jawaban dari Kapolri.

Penulis : Hernawan Saputra
Editor : Umi Fadilah
Publish : Hernawan Saputra

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password