Mabbulo Sibatang, Cara Jitu Polres Bone Selesaikan Konflik Pekelahian Antar Desa

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Tak selamanya suatu permasalahan harus diselesaikan secara hukum yang berakhir di meja hijau. Terbukti, Pihak Kepolisian Polres Bone menyelesaikan masalah konflik perkelahian antar warga yang bersebelahan Desa di wilayah Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone secara adat yang dikenal ‘Mabbulo Sibatang’ (persatuan dan persaudaraan) dengan duduk bersama, Kamis (6/7/17).

Perkelahian antar warga yang saling bertetangga Desa tersebut terjadi pada Jumat (30/6) lalu, antara Haeril Gunawan (26) warga Desa Tempe dengan H. Adil warga Desa Uloe.

Mabbulo Sibatang dilaksanakan di ruang gelar perkara Tipidkor (Tindak Pidana Korupsi) Polres Bone dipimpin Waka Polres Bone Kompol Alexander Hailitik.

Menurut Wakapolres Bone, permasalahan tersebut dapat memicu konflik pertikaian antar Desa, sehingga Polres Bone mengambil inisitif dengan membawa kasus tersebut untuk diselesaikan secara’Mabbulo Sibatang’

“Akibat permasalahan tersebut dapat memicu perkelahian kelompok antar Desa, sehingga kami mediasi dan kedua belah pihak sepakat berdamai,” turur Alexander.

Langkah Polres Bone dalam menyelesaikan permasalahan ala “Mabbulo Sibatang” sangat efektif karena melibatkan semua elemen, baik pemerintah setempat (Kepala Desa), Kapolsek dan Waka Polsek Dua Boccoe, Kasi Propam, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, dan kedua belah pihak serta segenap warga desa yang bertikai, duduk bersama membahas dan menyelesaikan konflik perkelahian yang melibatkan warga desa bertetangga.

Hal senada diungkapkan Kapolsek Dua Boccoe Akp H. Rizal tentang pertikaian yang diselesaikan secara Mabbulo Sibatang.

“Dari hasil mediasi, kedua belah pihak sepakat permasalahan itu diselesaikan secara kekeluargaan sehingga tidak berkembang  dan meluas. Kedua belah pihak sepakat untuk berdamai dan saling memaafkan dan tidak membawa ke ranah hukum,” kata Kapolsek.

Mediasi merupakan salah satu bentuk dari alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Tujuan dilakukannya mediasi adalah menyelesaikan sengketa antara para pihak dengan melibatkan pihak ketiga yang netral dan imparsial.

Mediasi dapat mengantarkan para pihak ketiga pada perwujudan kesepakatan damai yang permanen dan lestari, mengingat penyelesaian sengketa melalui mediasi menempatkan kedua belah pihak pada posisi yang sama, tidak ada pihak yang dimenangkan atau pihak yang dikalahkan (win-win solution).

Dalam mediasi para pihak yang bersengketa proaktif dan memiliki kewenangan penuh dalam pengambilan keputusan. Mediator tidak memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan, tetapi ia hanya membantu para pihak dalam menjaga proses mediasi guna mewujudkan kesepakatan damai mereka.

Penyelesaian sengketa melalui jalur mediasi sangat dirasakan manfaatnya, karena para pihak telah mencapai kesepakatan yang mengakhiri persengketaan mereka secara adil dan saling menguntungkan.

Bahkan dalam mediasi yang gagal pun, di mana para pihak belum mencapai kesepakatan, sebenarnya juga telah merasakan manfaatnya. Kesediaan para pihak bertemu di dalam proses mediasi, paling tidak telah mampu mengklarifikasikan akar persengketaan dan mempersempit perselisihan di antara mereka.

Hal ini menunjukkan adanya keinginan para pihak untuk menyelesaikan sengketa, namun mereka belum menemukan format tepat yang dapat disepakati oleh kedua belah pihak.

Model utama penyelesaian sengketa adalah keinginan dan iktikad baik para pihak dalam mengakhiri persengketaan mereka. Keinginan dan iktikad baik ini, kadang-kadang memerlukan bantuan pihak ketiga dalam perwujudannya. Mediasi merupakan salah satu bentuk penyelesaian sengketa yang melibatkan pihak ketiga. Mediasi dapat memberikan sejumlah keuntungan antara lain :

  1. Mediasi diharapkan dapat menyelesaikan sengketa secara cepat dan relatif murah dibandingkan dengan membawa perselisihan tersebut ke pengadilan atau ke lembaga arbitrase.
  2. Mediasi akan memfokuskan perhatian para pihak pada kepentingan merekan secara nyata dan pada kebutuhan emosi atau psikologis mereka, sehingga mediasi bukan hanya tertuju pada hak-hak hukumnya.
  3. Mediasi memberikan kesempatan para pihak untuk berpartisipasi secara langsung dan secara informal dalam menyelesaikan perselisihan mereka.
  4. Mediasi memberikan para pihak kemampuan untuk melakukan kontrol terhadap proses dan hasilnya.
  5. Mediasi dapat mengubah hasil, yang dalam litigasi dan arbitrase sulit diprediksi, dengan suatu kepastian melalui konsensus.
  6. Mediasi memberikan hasil yang tahan uji dan akan mampu menciptakan saling pengertian yang lebih baik di antara para pihak yang bersengketa karena mereka sendiri yang memutuskannya.
  7. Mediasi mampu menghilangkan konflik atau permusuhan yang hampir selalu mengiringi setiap putusan yang bersifat memaksa yang dijatuhkan oleh hakim di pengadilan atau arbiter pada lembaga arbitrase.

Penulis : Sumarwan

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password