Sembilan Ekor Sapi yang Diduga Hilang Dicuri Akhirnya Ditemukan Aparat Polsek Bulukumpa Didalam Hutan

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Masyarakat Desa Tibona Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba yang kehilangan ternak sapi beberapa waktu lalu, akhirnya bisa bernafas lega, Rabu (05/07/17).

Pasalnya, Polsek Bulukumpa berhasil menemukan ternak Sapi yang dilaporkan hilang oleh warga Desa Tibona.

Berdasarkan Laporan Polisi No. 66/VII/2017/Blkpa tgl 04 Juli 2017 terkait Kasus Pencurian Ternak yang dilaporkan warga Tibona sebanyak 9 ekor.

Kapolsek Bulukumpa Akp Abdi Nur langsung menindak lanjuti laporan Warga tersebut dengan memerintahkan Anggotanya dibantu oleh warga pemilik ternak untuk melakukan pencarian.

Dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah dari personil Polsek Bulukumpa dibantu oleh warga, Barang bukti berupa sapi 9 ekor berhasil di temukan di dalam hutan di antara pepohonan dan alang alang namun tidak ada pelaku yang ditemukan.

“Besar kemungkinan ternak tersebut sengaja disimpan/ disembunyikan oleh orang yang tdk bertanggung jawab didalam hutan untuk menunggu transportasi untuk mengakut sapi tersebut,” ujar Kapolsek Bulukumpa.

Barang bukti berupa sapi tersebut langsung diserahkan kepada pemiliknya dan Kapolsek bulukumba menghimbau kepada Masyarakat Bulukumpa agar lebih waspada dalam mengamankan dan menjaga ternaknya.

Dari sisi penjahat atau perampok yang sudah nekat dan melakukan aksi kejahatannya dengan penuh persiapan, termasuk pencurian hewan ternak menurut Psikolog, Prof Dr Abd Munir MPd,  perlu dilihat latar belakang mengapa orang mencuri atau merampok. Faktor itu banyak hal, tetapi intinya kebutuhan.

Seperti misalnya, seorang lelaki ingin kawin, tetapi tidak ada uang, kemudian mencuri, artinya kebutuhannya untuk meminang orang. Lain lagi kebutuhan untuk makan. Seperti ada yang mencuri karena keluarganya sakit dan membutuhkan uang.

“Jadi jelas, dalam hal ini kemiskinan masyarakat kita juga jadi persoalan. Kemiskinan membuat orang terbebani dengan biaya hidup, tetapi karena tak ada kerjaan, dicoba dengan cara yang negatif itu,” papar Prof Dr. Abdul Munir, M.Pd.

Selain faktor kemiskinan, juga banyak faktor lain yang memengaruhi orang yang mencuri. Munir, berpendapat, pada prinsipnya adalah ketegasan hukum dan memperhatikan nasib orang-orang miskin. Kemiskinan itu harus diredam. Dalam realitanya, bukan sedikit orang yang miskin.

Jadi kalau pihak aparat main tembak? Kata Munir, itu bukan langkah yang bijak, walaupun mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perubahan. Seperti yang dulu terjadi pada penembak misterius (petrus) di masa Orde Baru itu, memang aman. Tapi dalam tatanan, orang penuh ketakutan, dampaknya bisa-bisa orang yang tidak jahat jadi sasaran. Jadi negatifnya juga ada.

Menurutnya, pemberdayaan masyarakat perlu. Jangan hanya saat kampanye seperti sekarang ini, masyarakat diberdayakan dengan memberikan bayaran. Itu tidak efektif. Masyarakat itu diberikan pancing, bukan ikan.

Penulis : Sumarwan

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password