Kerja Keras, Kerja Cerdas dan Kerja Ikhlas : Sebuah Refleksi Hari Bhayangkara Ke-71

Tribratanews.polri.go.id – Polda Jatim, Memperingati hari Bhayangkara ke-71, tak lengkap rasanya jika tidak mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh Kepolisian khususnya Polres Trenggalek dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom dan pelayan bagi masyarakat Kabupaten Trenggalek. Simak wawancara langsung tim redaksi dengan Kapolres Trenggalek AKBP Donny Adityawarman, S.I.K., M.Si. berikut ini.

Selamat pagi Pak Kapolres! Bagaimana kabarnya?

Selamat pagi, Alhamdulillah baik saja, tetap semangat pagi. Itu juga yang sering saya sampaikan kepada anggota bahwa sebagai Polisi tidak boleh lemah apapun kondisinya. Maknanya adalah selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat layaknya semangat mentari pagi yang tak pernah bosan menyinari bumi.

Sudah hampir 6 bulan menjadi Kapolres Trenggalek, tentunya sudah banyak berbuat untuk warga masyarakat. Apa saja?

Saya menjabat sebagai Kapolres Trengglek sejak tanggal 6 Desember 2016, sudah 6 bulan ya. Bukan waktu yang singkat untuk membenahi dan mengangkat posisi Polres Trenggalek agar sejajar dengan polres lainnya di Jawa Timur.

Dulu, mendengar kata Trenggalek yang terbayang dibenak saya adalah terpencil, sepi dan ndeso. Namun saat pertama menginjakkan kaki di kota dengan sebutan Menak Sopal ini anggapan saya berubah 180 derajat. Trenggalek bukan kota sepi, karena aktivitas masyarakat juga berlangsung 24 jam sama halnya seperti kota yang lain. Saya lebih suka menyebutnya tenang. Trenggalek juga bukan kota terpencil karena perkembangan teknologi juga sudah merambah kota tempe kripik ini. Trenggalek juga bukan ndeso karena pembangunan infrastruktur yang demikian masif. Yang membuat kota ini seakan tidak terdengar perkembangannya adalah karena minimnya aktualisasi dan publikasi sehinga masyarakat luas tidak mengetahui kemajuan kota Trenggalek.

Saat pertama menjabat, yang saya lakukan adalah turun ke bawah. Mengecek kondisi masyarakat yang sesungguhnya. Saya tidak bisa hanya menerima laporan dari para Kapolsek tanpa mengetahui kondisi yang sebenarnya. Ini menjadi penting untuk mengaplikasikan terobosan apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat Trenggalek.

Untuk itulah, saya menggagas program yang bernama Ngopim@s, Ngobrolin Polisi dan Kamtibmas. Disitu saya bertemu dengan semua tokoh masyarakat. Saya harus mendengar langsung apa keluhan dan meneruskan aspirasi mereka. Kamtibmas kondusif tak akan tercipta tanpa peran para tokoh ini sehingga ada keselarasan antara kebijakan polisionil dengan harapan masyarakat.

Ngopim@s saya targetkan harus selesai dalam satu bulan, mengapa ? Karena saya harus segera menyusun rencana strategis apa yang bisa saya lakukan. Dan itu harus sudah berjalan di awal tahun 2017.

Pada aspek internal, saya mulai memetakan sumberdaya yang dimiliki Polres Trenggalek. Dan saya temukan bahwa hampir 60% dari 725  personel sudah bergelar Sarjana dari S1, S2 sampai S3. Artinya dari sisi akademik sudah mumpuni. Disisi yang lain, minimnya jumlah Perwira, dan dinamika operasional masih mengacu pada perintah dari satuan atas. Tidak ada inisiatif yang bersifat terbarukan agar kondusifitas Kamtibmas menjadi lebih mantap. Belum lagi soal ruang kerja dan ruang pelayanan yang kurang representatif. Kelemahan itu harus bisa ditutup dengan kelebihan yang kita miliki.

Untuk itu, kemudian saya buat Motto “Peduli dan Militan”. Peduli adalah sikap mental kepribadian yang dimulai dari peduli kepada diri sendiri, keluarga dan kesatuan. Semua kepedulian yang muncul harus berdampak positif bagi terciptanya postur Polri yang diharapkan masyarakat. Sedangkan Militan adalah loyalitas yang dibangun atas dasar kepedulian kepada kesatuan, bangsa dan negara.

Sedangkan pola kerja yang saya terapkan kepada semua anggota dan jajaran adalah kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Kerja keras artinya, setiap anggota Polres Trenggalek menunjukkan dedikasi dan integritasnya dalam bekerja didukung militansi yang tinggi terhadap pimpinan dan satuan. Kerja cerdas memiliki arti kelihaian dan kecerdikan mengolah beban kerja, membuat inovasi dan kreasi terbarukan serta mampu melihat peluang yang ada demi kemajuan dan citra Polri yang lebih baik. Sedangkan kerja ikhlas dapat diartikan sebagai sifat mendasar dalam bekerja dan menunaikan tugas dengan tidak mengharap imbalan dan pujian. Semua didasari atas keikhlasan yang berangkat dari hati nurani terdalam demi kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Melihat kenyataan diatas, saya berfikir, program unggulan harus menyentuh dan hasilnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Muncullah ide  Polisi Peduli Sesama atau yang disingkat P2S. Program ini berorientasi pada membangun kepekaan dan kepedulian anggota terhadap lingkungan sekitar. Tidak perlu menunggu perintah. Saat mengetahui ada masyarakat yang mengalami kesulitan dalam hal apapun harus langsung turun membantu. Bentuk kegiatannya, mulai dari hal kecil seperti membantu menyeberangkan orang tua, membantu sembako hingga bedah rumah.

Dalam pelaksanaannya, P2S bermetamorfosis menjadi berbagai macam kegiatan. Seperti ATM Beras, Polsek Berbagi (Perpustakaan online bagi pelajar), Ramadhan Berbagi dan banyak lagi. Program ini berlangsung secara kontinyu. Tak ada batasan waktu dan dievaluasi tiap bulannya.

Gedung kantor dan pelayanan juga saya rombak total. Bukan bermaksud apa-apa. Saya berfikir, jika suasana kantor sejuk dan menyenangkan tentu akan berpengaruh positif terhadap kualitas kinerja yang dihasilkan. Demikian pula dengan ruang pelayanan. Berbagai fasilitas ditambahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik seperti wifi gratis, tempat charger HP dan lain-lain.

Secara umum bagaimana kondisi keamanan wilayah Trenggalek? Bagaimana dengan  kondisi geografis ? Apa ada masalah dalam menjaga keamanan dan memberi pelayanan?

Nah ini yang membedakan Trenggalek dengan kota lainnya. Kejadian kriminalitas di Trenggalek relatif tidak terlalu tinggi. Kasus yang meresahkan justru penipuan. Keluguan masyarakat Trenggalek sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk melakukan aksinya demi mencari keuntungan diri sendiri. Dan alhamdulillah Polres Trenggalek berhasil membongkar 2 modus penipuan bernilai milyaran rupiah yakni  penipuan Kanjeng Dimas Gentong dan sindikat undian palsu lintas provinsi.

Kondisi geografis Kabupaten Trenggalek didominasi bukit dan pegunungan dengan kontur tanah kapur. Itu sebabnya Trenggalek sangat rentan terjadi bencana alam khususnya longsor dan banjir. Saat hujan dengan intensitas tinggi, sungai tidak mampu menampung volume air akibatnya meluber hingga ke pemukiman. Longsor paling parah terjadi di KM 15-18 Desa Nglinggis yang sampai menutup badan jalan nasional. Meskipun tidak ada korban jiwa, namun jalan harus ditutup total hingga beberapa hari.

Kesulitan lainnya, beberapa titik di wilayah pegunungan mengalami blank spot, baik selular maupun frekuensi HT. Akibatnya jalur komunikasi benar-benar tidak bisa dilakukan. Ditambah lagi medan yang cukup berat untuk dilalui.

Meskipun begitu pada prinsipnya tidak ada kendala dalam hal pelayanan. Untuk menjangkau masyarakat pegunungan dan pesisir, ada Samsat keliling yang rutin menyambangi masyarakat setiap hari. Ada lagi Sambel Pedas Gus yakni samsat keliling bersepeda motor khusus pegunungan dan pesisir. Untuk mengatasi kesulitan komunikasi, kita juga bekerjasama dengan mitra Kamtibmas seperti Orari, Rapi dan Senkom. Kita juga kembangkan aplikasi berbasis IT yang nantinya bisa menjangkau seluruh wilayah Kabupaten Trenggalek.

Bagaimana kondisi rasio polisi di Trenggalek? Kalau tak seimbang, bagaimana bapak mengatasinya?

Rasio Polisi di Kabupaten Trenggalek masih cukup tinggi, 1 : 1.236 artinya 1 polisi harus melayani sekurangnya 1.236 masyarakat. Ini tentu menjadi tantangan yang cukup berat. Langkah yang bisa dilakukan dari sisi internal adalah mengoptimalkan personel yang ada. Semua harus bekerja secara tim agar tercapai tujuan visi dan misi kesatuan. Jangka pendek adalah dengan pemenuhan Bhabinkamtibmas 1 desa 1 polisi. Dan alhamdulillah sebanyak 157 desa sudah terpenuhi semua.

Bhabinkamtibmas inilah yang berfungsi sebagai miniatur Polri di tingkat desa. Tidaka semua anggota bisa menjadi Bhabinkamtibmas. Harus melalui asistensi terlebih dahulu. Kemampuan minimal adalah bisa berkomunikasi dengan segala lapisan masyarakat. Dia juga harus memiliki skill sebagai motivator, dinamisator sekaligus solutor bagi masyarakat desa binaannya. Masalah kecil tidak harus diselesaikan dalam ranah hukum namun bisa pula melalui mekanisme 3 pilar sehingga kasus tidak menumpuk di tingkat Polsek maupun Polres.

Langkah berikutnya tentu menjalin kerjasama yang erat dengan semua potensi masyarakat yang ada. Dari tingkat Forkompimda, Muspika hingga menyentuh tokoh masyarakat berpengaruh dan ormas ataupun LSM. Semua Kapolsek saya wajibkan sowan ulama dan anjangsana tokoh masyarakat. Tujuannya, agar ada kesinambungan antara progres di tingkat desa dengan kebijakan tingkat Kabupaten. Penyelesaian harus secara komprehensif agar tidak meninggalkan masalah dikemudian hari.

Bagaimana dengan layanan unggulan sebagaimana instruksi Presiden Jokowi dan Kapolri  yang didalamnya terdapat  zona intregritas. Apa saja yang sudah dilakukan Trenggalek dan jajarannya?

Tentang Zona Integritas (ZI), sejak awal menjabat sebagai Kapolres Trenggalek, ZI memang menjadi salah satu concern saya. Tujuan saya sederhana, jika pelayanan bagus maka akan berbanding lurus dengan peningkatan kepercayaan publik terhadap Polri. Begitu pula dengan kesejahteraan anggota, pasti akan mengalami peningkatan.

Polres Trenggalek memfokuskan pada 2 unit pelaksana pelayanan masyarakat yakni SKCK dan SIM, dimana sudah banyak yang kita lakukan untuk memperbaiki kualitas pelayanan. Ada 3 kriteria yang harus terpenuhi antara lain pelayanan harus cepat, transparan dan akuntabel atau bisa dipertanggungjawabkan. Tentu dalam pelaksanaannya harus dibarengi dengan pengawasan melekat, mulai dari first line supervisor sampai personel yang mengawaki pelayanan itu sendiri.

Alhamdulillah, dari hasil asistensi berkas ZI yang kita kirimkan ke Itwasda Polda Jatim, Polres Trenggalek meraih nilai cukup tinggi. Ini membuktikan bahwa Polres Trenggalek mampu bersaing dan bisa memberikan yang terbaik kepada kesatuan dan masyarakat. Itwasda sudah menyatakan bahwa Polres Trenggalek sudah layak mendapatkan predikat WBBM (Wilayah Birokrasi Bersih Melayani) dan WBBK (Wilayah Birokrasi Bebas Korupsi). Predikat itu nantinya akan disurvei langsung dan mendapatkan legitimasi dari Kemenpan. Dengan kesolidan, dedikasi dan integritas anggota, saya sangat optimis Polres Trenggalek mampu meraih itu.

Bagaimana cara mencapainya, padahal Trenggalek selama ini dipandang sebelah mata? 

Iya betul tertinggi dibandingkan dengan Polres jajaran se-Jawa Timur lainnya. Polres Trenggalek berhasil memperoleh nilai 78. Itu capaian yang luar biasa. Beberapa hal yang menjadi dasar penilaian antara lain indeks kepuasan masyarakat (IKM) harus tinggi. Agar ada independensi secara ilmiah, dalam pengambilan sampel survei kita bekerjasama dengan salah satu perguruan tinggi swasta di Trenggalek, sehingga nilai IKM benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Selain itu harus ada peningkatan sarana pelayanan, seperti ruang tunggu yang represntatif, tertib administrasi dan yang paling penting adalah ketiadaan pungli maupun korupsi.

Ya seperti yang saya jabarkan diawal tadi, Trenggalek memang identik dengan suasana tenang dan nyaman. Lokasinya yang berada di ujung selatan pulau Jawa dan perkembangan pembangunan yang cenderung pelan membuat orang berfikir Trenggalek itu hanya pas buat orang yang mau pensiun saja. Dan itu secara tidak langsung ikut berpengaruh pada mentalitas personelnya. Sering saya temui komentar, Ah cuman Trenggalek, mau diapain juga tetep aja seperti ini. Mental seperti inilah yang harus dirubah.

Itu sebabnya, awal bulan Mei 2017 yang lalu, saya berikan Training Motivasi Spiritual Extraordinary Police dengan metode ESQ bekerjasama dengan Thanks Institute Surabaya untuk merubah mindset anggota agar memiliki sifat pejuang dan mampu mengaktualisasikan kemampuan diri dan bisa bersaing dalam berbagai hal.

Sebenarnya semua bergantung dari peran manajer dalam mengatur organisasi. Seorang pemimpin harus bisa menjadi motivator bagi bawahannya. Tidak sekedar main perintah, tapi harus ikut berbaur dan menyelami kehidupan mereka. Dengan begitu akan muncul sikap handarbeni atau rasa ikut memiliki. Menjadi satu keluarga satu kesatuan utuh dalam membangun dan membesarkan Polres Trenggalek. Dengan kebersamaan tidak ada yang tidak mungkin bisa diraih.

Oh iya, Polres Trenggalek adalah satu-satunya kesatuan Polri yang punya ATM Beras. Bagaimana animo dan tanggapan masyarakat?

ATM beras, merupakan pengejawantahan dari program Polisi Peduli Sesama. Dan itupun juga merujuk pada Promoter Kapolri dan tema humanis Kapolda Jatim yang termaktub dalam program Patuh Polda Jatim.

Pada awalnya, ATM Beras ini merupakan tindak lanjut dari hasil blusukan ke bawah, dimana banyak saya temukan masyarakat Kabupaten Trenggalek ini yang dalam kondisi dibawah garis kemiskinan. Polsek dan jajaran sudah banyak berbuat dengan memberikan bantuan berupa paket sembako yang diperoleh dari hasil iuran anggotanya tiap hari Kamis. Jadi ada program yang namanya Kamis beramal dimana tiap hari Kamis usai salat Dhuha dan yasinan bersama. Nah hasilnya ini kemudian dibelikan sembako dan diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Agar lebih efektif, muncullah ide ATM Beras ini. Bentuknya mirip dengan ATM biasa. Demikian pula dengan fungsinya, tak jauh berbeda. Hanya saja kalau ATM biasa keluar uang, nah kalau ATM ini yang keluar beras. Sementara ini masih ada 1 buah dan kita sudah pesankan 3 unit lagi yang akan kita tempatkan di desa atau tempat strategis lainnya agar mudah diakses oleh masyarakat. Masing-masing penerima mendapatkan 5 kg beras per minggu. Berasnya kita kumpulkan dari anggota secara sukarela serta kerjasama dengan Pemkab Trenggalek.

Saat ini kita sedang membangun command center yang saya kasih nama Monster atau Manajemen Online Sistem Terintegrasi. Didalamnya mencakup banyak hal berkaitan dengan pergelaran personel dan peningkatan playanan publik seperti panic button, pengawasan cctv, cyber patrol dan lain-lain.

Nah, ATM Beras ini pun juga kita kembangkan fungsinya. Tidak hanya sebagai tempat pembagian beras namun juga difungsikan sebagai panic button yang langsung terkoneksi dengan command center. Juga ada fasilitas ambulan, pemadam kebakaran dan aplikasi Gertak Pemkab Trenggalek (Gerakan Tengok Bawah Masalah Kemiskinan). Jadi saat masyarakat membutuhkan bantuan Polisi maupun yang berkaitan dengan program Pemerintah cukup datang ke lokasi ATM dan memilih keperluannya.

Kedepan kita upayakan agar ATM Beras ini bisa menyentuh semua desa. Minimal satu tiap kecamatan. Dibutuhkan komitmen dan kerjakeras luar biasa agar program ini bisa terlaksana dengan baik. Doakan saja.

Penulis : Ady / Res Trenggalek Jatim
Editor : Umi Fadilah
Publish : Handoko / Res Trenggalek Jatim

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password