Polisi Gelar Pengamanan Sinode Agung Gereja Katolik Keuskupan Tanjung Karang Lampung 2017

Tribratanews.polri.go.id – Polda Lampung. Jajaran Kepolisian Sektor Pringsewu Polres Tanggamus menggelar pengamanan kegiatan Sinode Agung Gereja Katolik Keuskupan Tanjung Karang 2017 yang dipusatkan di ‎Gedung Pertemuaan Laverna Kelurahan Fajaresuk, kecamatan Pringsewu.

Mewakili Kapolres Tanggamus AKBP Alfis Suhaili, SIK. MSI, Kapolsek Pringsewu Kompol Andik Purnomo Sigit, SH. SIK. MM, mengatakan kegiatan pertemuan pastoral berlangsung selama 5 hari. “Pengamanan secara tertutup kami laksanakan sejak kegiatan pertemuan dibuka tanggal 3 – 7 Juli 2017 yang diikuti 83 imam gereja dan 18 suster dari seluruh lampung dengan keseluruhan peserta 235 orang,” kata Kompol Andik Purnomo Sigit, Selasa (4/7/17).

Kepala kantor wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Lampung, Drs. Hi. Suhaili yang hadir pada pembukaan acara, Senin (3/7/17) malam dalam sambutan mengatakan, Kantor wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung ‎mengajak kepada seluruh umat Katolik untuk sama ‎sama dapat menjalin kebersamaan meningkatkan toleransi, mempererat tali pesaudaraan interen Umat Katolik dan terhadap umat beragama lainnya, serta bergandeng ‎tangan bersama ikut membangun suasana yang ‎harmonis, damai dan kondusif. Sehingga akan tercipta ‎tatanan masyarakat Lampung yang sejahtera dan damai.‎

‎Ia juga ‎berharap tema tema sentral yang akan menjadi pembahasan dalam sidang agung ini yaitu Koinonia, Martiria, Diakonia, Karigma dan liturgia dapat didiskusikan dengan jernih sehingga akan menghasilkan rumusan yang dapat dijadikan arah pastoral Gereia Katolik Keuskupan Tanjung Karang kedepan.

“Saya sangat berharap agar dalam sidang agung ini semua tokoh dan ‎umat katolik dapat berpartisipasi memberikan masukan serta evaluasi terhadap pelaksanaan regulasi terkait kerukunan umat beragama. ‎Saya yakin dengan keterbukaan dan semangat kebersamaan, Insya Allah semua persoalan yang terkait dengan masalah keberagaman khususnya di Provinsi Lampung dapat kita atasi bersama dalam rangka ‎menciptakan suasana damai, aman dan harmoni,”pinta Suhaili.

Menurut dia, bahwa ‎kemajemukan dan pluralitas masyarakat Lampung baik dari aspek suku, budaya, afiliasi politik, paham keagamaan, dan pilihan strategi penyiaran agama menjadi peluang sekaligus tantangan dalam pembangunan umat dan bangsa d‎alam mengelola kemajemukan.
“Selain itu juga khususnya keragaman agama dan kepercayaan hendaknya setiap ‎pemuka agama dalam upaya meningkatkan pemahaman agama umatnya dapat mengedepankan prinsip harmoni ‎dan saling menghargai khususnya terhadap pemeluk‎ agama Iainnya,”kata Suhaili.

‎Oleh karenanya dijelaskan Suhaili, bahwa Menteri Agama telah‎ menyampaikan seruan agar dipedomani oleh para pemuka agama ketika menyampaikan misi dakwahnya. Dalam seruan tersebut meliputi 9 point yakni‎ pertama Ceramah dirumah Ibadah disampaikan oleh penceramah yang memiliki pemahaman dan komitmen pada tujuan utama diumumkannya agama, yakni melindungi martabat kemanusiaan serta menjaga kelangsungan hidup dan perdamaian umat manusia. ‎Kedua disampaikan berdasarkan pengetahuan keagamaan yang memadai dan bersumber dari ajaran pokok agama.

Ketiga disampaikan dalam kalimat yang baik dan santun dalam ukuran kepatutan dan kepantasan, terbebas dari umpatan, makian, maupun ujaran kebencian yang dilarang oleh agama manapun.‎
‎Keempat bernuansa mendidik dan berisi materi pencerahan yang meliputi pencerahan spriritual, intelektual, emosional dan multikultural. Materi diutamakan beri nasehat, motivasi dan pengetahuan yang mengarah kepada kebaikan, peningkatan kualitas ibadah, pelestarian lingkungan, persatuan bangsa serta kesejahteraan dan keadilan sosial. Kelima materi yang disampaikan tidak bertentangan dengan empat konsensus bangsa Indonesia, yaitu; Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.

Keenam materi yang disampaikan tidak mempertentangkan unsur SARA (suku, agama, ras, antargolongan) yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu kerukunan ataupun merusak ikatan bangsa. Ketujuh materi yang disampaikan tidak bermuatan Penghinaan, penodaan dan atau pelecehan terhadap pandangan, keyakinan dan praktik ibadah antar atau dalam umat beragama, serta tidak mengandung Provokasi untuk melakukan tindakan diskriminatif, intimidatif, anarkis dan destruktif.

Kedelapan materi yang disampaikan tidak bermuatan kampanye politik praktis dan atau promosi bisnis. Terakhir kesembilan tunduk pada ketentuan hukum yang berlaku terkait ‎dengan penyiaran keagamaan dan penggunaan rumah ibadah.

“Mudah-mudahan dengan adanya pedoman ini, rumah ibadah diharapkan akan terjaga kesuciannya. Sehingga, rumah ibadah menjadi tempat yang paling aman dalam mewuiudkan kedamaian. Bukan sebaliknya, rumah ibadah menjadi tempat munculnya konflik atau sengketa
di antara umat beragama. Seruan hal ini bertujuan untuk menjaga rasa persatuan dan meningkatkan produktivitas bangsa, merawat kerukunan antar-umat beragama, dan memelihara kesucian rumah ibadah,”tandasnya.

Tampak hadir dalam pembukaan acara tersebut Bupati Pringsewu, Hi. Sujadi, kepala Kemenag kabupaten Pringsewu, Drs. Muhammad Yusuf,M. M.Pd dan para pastor serta suster se-provinsi Lampung. (*)

Penulis : Mul
Editor : Umi Fadilah
Publish : N.Muslih Lpg / Polres Tanggamus

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password