Ratusan Obat Daftar G Diamankan Polres Gowa dari Tangan Seorang Buruh Bangunan

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Satuan Reserse Narkoba Polres Gowa menangkap seorang buruh harian lepas yang terbukti membawa ratusan obat daftar G jenis Tramadol Jl. Bontobiraeng 3, Kel. Katangka, Kec. Somba Opu Gowa, Sabtu (1/7/17) malam.

Pelaku berinisial MA (33) berhasil ditangkap berkat informasi dari warga, dipimpin Ipda Imran Hamid langsung mendatangi kediaman pelaku Jl. Bontobiraeng 3, Kel. Katangka. Saat dilakukan penggeladahan petugas menyita 445 butir obat daftar G jenis Tramadol yang disimpan dalam satu buah kantong plastik berwarna hitam dilemari pakaian milik pelaku.

Saat diperlihatkan, pelaku tidak dapat mengelak bahwa ratusan Tramadol tersebut adalah miliknya. Dari hasil introgasi awal pelaku mengukui jika barang bukti tersebut dijual dengan harga Rp. 5.000 per sachet.

Dari lokasi penangkapan petugas menyita beberapa barang bukti diantaranya 445 butir obat daftar G jenis Tramadol (142 sachet masing masing berisi 10 butir dan 5 sachet masing masing berisi 5 butir),1 bal sachet kosong, uang tunai sebesar Rp. 144.000.

Saat ini pelaku bersama barang bukti diamankan di Mako Polres Gowa guna proses hukum lebih lanjut.

Peredaran obat-obatan jenis ini merupakan fenomena baru di Luwu Utara. Apalagi dengan harga yang terjangkau, sehingga para pelaku lebih mudah mengedarkannya.

Obat ini mempunyai efek yang sangat buruk kepada pemakai setelah mengkonsumsinya. Obat ini bisa merusak generasi muda bangsa ini, Apalagi peredarannya sudah masuk Lingkungan sekolah.

Pelaku diancam pasal 196 JO 98 (ayat 2 dan 3) undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Kasus penyalahgunaan narkoba meningkat dengan cepat di Indonesia, meskipun pemerintah dan masyarakat telah melakukan berbagai upaya. Penyalahgunaan narkoba memang sulit diberantas. Yang dapat dilakukan adalah mencegah dan mengendalikan agar masalahnya tidak meluas.

Sehingga merugikan masa depan bangsa, karena merosotnya kualitas sumber daya manusia terutama generasi mudanya. Penyalahgunaan narkoba berkaitan erat dengan peredaran gelap sebagai bagian dari dunia kejahatan internasional. Mafia perdagangan gelap memasok narkoba, agar orang memiliki ketergantungan, sehingga jumlah suplai meningkat.

Terjalin hubungan antara pengedar/bandar dan korban. Korban sulit melepaskan diri dari mereka, bahkan tak jarang mereka terlibat peredaran gelap, karena meningkatnya kebutuhan narkoba. Penderita ketergantungan obat-obatan terlarang atau kini umumnya berusia 15-24 tahun. Kebanyakan mereka masih aktif di Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, atau Perguruan Tinggi. Bahkan, ada pula yang masih duduk di bangku di Sekolah Dasar.

Penyalahgunaan narkoba biasanya diawali dengan pemakaian pertama pada usia SD atau SMP, karena tawaran, bujukan, dan tekanan seseorang atau kawan sebaya. Didorong pula oleh rasa ingin tahu dan rasa ingin mencoba, mereka mnerima bujukan tersebut. Selanjutnya akan dengan mudahnya untuk dipengaruhi menggunakan lagi, yang pada akhirnya menyandu obat-obatan terlarang dan ketergantungan pada obat-obatan terlarang.

Narkoba atau napza adalah obat/bahan/zat, yang bukan tergolong makanan. Jika diminum, diisap, dihirup, ditelan, atau disuntikam, berpengaruh terutama pada kerja otak (susunan saraf pusat) dan sering menyebabkan kertergantungan. Akibatnya, kerja otak berubah (meningkat atau menurun). Demikian pula dengan fungsi vital organ tubuh lain (jantung, peredaran darah, pernapasan, dan lain-lain).

Narkoba Jika diisap, atau dihirup, zat diserap masuk ke dalam pembuluh darah melalui saluran hidung dan paru-paru. Jika zat disuntikan, langsung masuk ke aliran darah. Darah membawa zat itu ke otak. Narkoba (narkotik, psikotropika, dan obat terlarang) adalah istilah penegak hukum dan masyarakat. Narkoba disebut berbahaya, karena bahan yang tidak aman digunakan atau membahayakan dan penggunaannya bertentangan dengan hukum atau melanggar hukum.

Oleh  karena itu, penggunaan, pembuatan, dan peredarannya diatur dalam undang-undang. Barang siapa yang menggunakan dan mengedarkannya di luar ketentuan hukum, dikenai sanksi pidana penjara dan hukuman denda.

Napza (narkoba, psikotropika, zat akdiktif lain) adalah istilah dalam dunia kedokteran. Di sini penekanannya pada pengaruh ketergantungannya. Oleh karena itu, selain narkotika dan psikotropika, yang termasuk napza adalah juga obat, bahan atau zat, yang tidak diatur dalam undang-undang, tetapi menimbulkan ketergantungan, dan sering disalahgunakan.

Penulis : Qadri

Editor : Umi Fadilah

Admin Polri54010 Posts

tribratanews.polri.go.id "Portal Berita Resmi Polri : Obyektif - Dipercaya - Patisipatif"

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password