Rusak Sadel Motor, Seorang Pria di Bone Dipolisikan Temannya Sendiri

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Tindak pidana pengancaman dan pengrusakan kini terjadi di Dusun Maccope Desa Mappesangka Kecamatan Ponre Kabupaten Bone, Jumat (23/6/17).

Lelaki Ansar, 36 tahun sebagai pelaku mengancam dan merusak sadel motor milik korban lelaki Junaidi, 40 tahun yang merupakan temannya sendiri.

Kejadian ini berawal saat pelaku dalam keadaan mabok setelah mengkonsumsi minuman keras jenis Ballo. Pelaku menghampiri korban namun korban menghindar karena merasa takut dan tetap mengejar korban, pelaku kembali dan merusak sadel motor milik korban dengan menggunakan senjata tajam berupa sangkur.

“Saya takut Pak, makanya saya ke sini untuk melapor karena dia mau menikan saya,” kata korban.

Kini pelaku dan barang bukti sudah diamankan oleh petugas Pospol Bakunge Polsek Ponre Polres Bone untuk proses selanjutnya.

Sulsel memiliki kultur yang terbilang tempramentatif. Ada filosofi siri na pacce yang dianut masyarakat yang kerap ditafsirkan keliru. Lengkapnya, di masyarakat tradisional tumbuh kebiasaan mengonsumsi miras berupa ballo.

Ballo ini yang banyak menjadi pemicu kejahatan, terutama kekerasan. Dari fakta yang ada, di masyarakat terjadi banyak konflik karena dua hal. Pertama, karena filosofi siri na pacce yang disalahtafsirkan, dan kedua karena miras (ballo) yang dikonsumsi dianggap sebagai hal yang biasa.

“Seperti fenomena begal sekarang ini, dominan pelakunya itu dalam pengaruh miras. Ada budaya keliru di masyarakat kita yang menganggap miras itu sebagai simbol kelaki-lakian. Bukan laki-laki kalau tidak minum ballo,” ujar budayawan Ishak Ngeljaratan, dalam tulisannya tentang kultur orang-orang Sulsel.

Inilah pemahaman keliru yang membudaya. Akibatnya, budaya kekerasan itu berkembang di masyarakat.

Ishak mengatakan, siri na pacce itu adalah filosofi agung. Maknanya sangat dalam. Ia menyimbolisasi orang-orang Sulsel sebagai orang yang punya siri atau malu.

“Orang Sulsel itu malu kalau berbuat jahat. Malu kalau minum ballo. Malu kalau belum bisa berbuat kebaikan untuk orang banyak,” katanya.

Bagaimana meluruskan prinsip ini?  Kata Ishak, harus dimulai dari keluarga. Setelah itu kekuasaan juga berperan penting. Pemimpin harus memberi teladan bagaimana memimpin dengan benar.

“Pemimpin itu keteladanan. Kalau tidak ada keteladanan, maka jangan salahkan masyarakat jadi brutal,” jelasnya.

Pengamat komunikasi publik, Aswar Hasan berpendapat, prinsip-prinsip dasar siri na pacce memang perlu diperkenalkan lebih dalam kepada anak-anak kita. Sebab, filosofi ini sudah ditafsirkan liar dan tidak bertanggung jawab.

Bahkan ada kelompok masyarakat yang masih menganggap mengonsumsi miras sebagai bagian dari simbolisasi siri na pacce. Mereka merasa tidak hebat kalau tidak minum miras.

Kebiasaan inilah yang mesti dihapus. Stigma tersebut perlu diluruskan lewat kampanye-kampanye kantibmas. Aswar mengaku salut dengan upaya Kapolda yang terus melakukan pendekatan filosofis ke masyarakat.

“Ini bentuk pendekatan polisi secara sosial yang bisa berdampak positif. Apalagi lewat pendekatan spiritual di masjid-masjid, itu akan sangat efektif menggugah masyarakat,” imbuhnya.

Penulis : Harmeno

Editor : Umi Fadilah

Admin Polri55933 Posts

tribratanews.polri.go.id "Portal Berita Resmi Polri : Obyektif - Dipercaya - Patisipatif"

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password