Safari Jumat: Kapolda Jadi Khatib di Masjid Al-Munawar Jl. A. Yani Balikpapan

Tribratanews.polri.go.id, BALIKPAPAN.—Kapolda Kaltim Irjen Pol Drs. Safaruddin kembali menjadi khatib salat Jumat di Masjid Al-Munawar, Jl. A Yani Balikpapan dengan membawakan tema fenomena media sosial di masyarakat, Jumat (23/6/2017).

Sekitar 800 jamaan, termasuk Waka Polda Kaltim bersama Karoops Polda Kaltim, Dirbinmas Polda Kaltim, Ka SPN dan Kapolres Balikpapan hadir memenuhi masjid yang teletak di simpang lima Muara Rapak, Balikpapan ini.

Dalam khotbahnya, Kapolda Kaltim mengatakan kita patut bersyukur kepada Allah SWT, sekarang ini kita sudah berada di penghujung bulan Suci Ramadhan. Mudah-mudahan semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita pada bulan Suci Ramadhan ini, dan segala dosa-dosa kita diampuni  Allah SWT. Sehingga kita bisa menjadi orang yang bertakwa di hadapan Allah SWT.

“Kita melaksanakan banyak ibadah salat tarawih, salat sunah dan puasa. Semoga kita menjadi orang yang bertaqwa,” katanya.

Sebagaimana yang disampaikan Al-Quran Surat 183 Al-Baqarah yang berbunyi: Wahai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Apabila kita sedang melaksanakan puasa, agar puasa kita sempurna. Perlu dua syarat. Yang pertama: kita menahan lapar dan dahaga. Tidak makan dan minum.  Yang kedua: Kita juga tidak boleh berbicara bohong, membicarakan kejelekan orang. Tidak boleh mengunjing orang. Tidak boleh menyebarkan ujaran-ujaran kebencian permusuhan.

Dalam hadis riwayat Bukhari: barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta  dan mengerjakannya, maka Allah tidak perlu puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum.

Kita harus menyadari, bahwa agama Islam sebagai agama yang sempurna. Mengajarkan tentang budi pekerti, mengajarkan etika, mengajarkan perasaan dan hati nurani. Agama mulia ini mengajurkan kepada umat Islam untuk berperilaku yang baik. Berkata-kata yang sopan-santun kepada sesama manusia. Menjaga lisannya, terhadap seluruh mahkluk yang ada di muka bumi ini, kita harus menjaga kelestarian lingkungan, agar kita terhindar bencana.

Kita juga berperilaku yang baik terhadap hewan-hewan yang ada di muka bumi ini, terlebih-lebih berperilaku  yang baik kepada sesama manusia. Oleh karena itu, Islam mengharuskan, adanya perilaku dengan hati, perasaan yang bersih, menjaga lisan, menjaga rahasia pribadi, serta berakhlak mulia terhadap dirinya dan seluruh umat manusia, seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini.

Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Hujarat  ayat 12 yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari buruk sangka atau kecurigaan, karena  sebagian dari buruk sangka itu adalah dosa dan janganlah suka mencari-cari keburukan orang lain.

Pesan Alquran ini merupakan jawaban dari fenomena yang sedang kita alami saat ini. Karena kemajuan ilmu pengetahuan teknologi informasi. Ada yang namanya media sosial. Kita bisa berkomunikasi, mengemukakan pendapat kita, berbicara di media sosial. Tetapi yang terjadi saat ini, menimpa umat Islam di seluruh dunia, khususnya di Indonesia dan di Balikpapan ini.

Kita sekarang ini lagi gemar saling menyalahkan, saling mencurigai, saling menjelekkan, melalui media sosial. Yang seharusnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi itu  digunakan untuk mempermudah kita beribadah. Saling mengajak berbuat kebaikan.

Kapolda menekankan, bahwa kita berada di era globalisasi, yang seharusnya  kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi digunakan untuk kemudahan dalam beribadah. Coba kita lihat, berapa tahun lalu kalau berangkat ke Tanah Suci, harus berbulan-bulan, karena menggunakan kapal laut.

Sekarang dengan adanya kemajuan teknologi, hanya beberapa jam sudah berada di Tanah Suci. Setiba di Tanah Suci, kita bisa berkomunikasi dengan keluarga di Balikpapan. Kita bisa mengabarkan keluarga kita di Balikpapan, karena teknologi handphone, media sosial, internet.

“Harusnya, kemajuan teknologi itu kita manfaatkan untuk mempermudah kita beribadah. Tetapi sekarang ini, terjadi sebaliknya. Kemajuan teknologi itu, menjadikan kita saling menjelek-jelekkan, saling memfitnah.  Itu dilarang oleh agama Islam. Sudah dilarang oleh Alquran berapa ribu tahun lalu,” kata Kapolda, selaku khatib.

Karena menggunjing itu atau mencari kesalah-kesalahan orang lain, menyebabkan rusaknya kehomatan seseorang. Merusak hati dan ketentraman masyarakat. Mengganggu persatuan dan kesatuan umat Islam. Karena perbuatan menggunjing orang, merupakan salah satu dosa besar, yang membinasakan dan merusak agama para pelakunya. Baik sebagai pelaku, maupun orang yang ikut mendengarkannya.

“Karena orang  yang ikut mendengarkan buruk sangka, sama dosanya dengan orang yang menggunjing,” pesan Kapolda. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Mubarak: “Pergilah dari orang yang menggunjing, sebagaimana engkau lari dari kejaran singa”.

Untuk menggambarkan bagaimana balasannya bagi orang yang menggunjing, Kapolda kembali membacakan salah satu surat dalam Alquran, yakni Surat Al Hujarat  ayat 12 yang  artinya:… Dan jangan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha penerima tobat lagi Maha Penyayang.

“Secara naluriah, tentu kita jijik memakan daging saudara kita yang sudah meninggal. Itu perumpaan kalau kita suka membicarakan kejelekan orang, menghujat orang, menjelek-jelekkan orang, itu sama dengan memakan daging saudaranya yang sudah meninggal. Yang seharusnya kita jijik, tetapi itu menjadi kegemaran kita saat ini,” kata Kapolda.

Kapolda selanjutnya mengutib dialog antara Nabi Muhammad dengan Malaikat Jibril pada  saat perjalanan Israk-Mikraj seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud. Dalam dialog itu digambarkan ketika Nabi Muhammad melihat suatu kaum yang kukunya panjang, terbuat dari tembaga dan pekerjaannya menggaruk-garuk dadanya. Nabi bertanya kepada malaikat Jibril, siapakah itu, dan dijawab itu adalah kaum waktu dia hidup, suka menggunjing orang, suka

membicarakan kejelekan orang, suka mencari kesalahan orang. Membicarakan kesalahan orang lain.

“Nanti, setelah kita kembali dari salat Jumat kita ini, coba perhatikan tangan-tangan kita. apakah kuku kita panjang terbuat dari tembaga atau tidak. Kalau kuku kita panjang, sebaiknya dipotong sekarang juga. Berhenti mulai sekarang, menggunjing orang,” kata Kapolda.

Usai salat jumat berjamaah Kapolda Kaltim bersilaturahmi bersama pengurus Al-Munawar, Muara Rapak Balikpapan. Selain itu, Kapolda Kaltim juga tampak menandatangani buku-buku catatan ibadah dari anak-anak yang hadir dalam salat Jumat.

Penulis: Baim

Editor: Umi Fadillah

Publish: Humas Polda Kaltim

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password