Gelar Patroli Malam, Polsek Biringkanaya Tangkap 12 Orang Remaja yang Asik Minum Ballo

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Personil Resmob Polsek Biringkanaya dipimpin oleh Kanit Reskrim AKP Zainuddin melaksanakan giat Patroli Hunting Pantau wilayah dalam rangka antisipasi terjadinya gangguan kamtibmas terutama menjelang Idul Fitri 1438 H, Selasa (20/06/17).

Dalam Giat hunting tersebut sekitat Pukul 23.00 Wita tepatnya di Kampung Cedde dekat Pekuburan Laikang Kel Sudiang Kec Biringkanaya 12 remaja tertangkap tangan ketika sedang asik miras (Ballo) yang pekerjaannya rata rata pengangguran atau tidak mempunyai pekerjaan tetap dengan umur rata rata 16 – 18 tahun.

Sekelompok remaja ini langsung digelandang ke Mako Polsek Biringkanaya untuk dilakukan pendataan oleh Bhabinkamtibmas sekaligus memanggil masing masing orang tuanya.

Selanjutnya Sekelompok semaja ini diberi Pembinaan oleh Panit 1 Binmas Ipda H. Subahana didampingi Waka Polsek Biringkanaya AKP Yuventus Pare dan Kanit Sabhara AKP Alqadri agar tidak lagi melakukan pesta miras apa lagi melakukan perbuatan perbuatan yang melawan hukum seperti Begal/Jambret /Curanmor serta narkoba dan sejenisnya.

Kepada orang tua masing masing dihimbau agar senantiasa mengawasi /membimbing dan terus mengarahkan anak anaknya ke arah yang positif jangan dibiarkan untuk keluyuran kemanan tanpa tujuan yang jelas karena dari pergaualan bebaslah anak anak berpotensi memilih jalan yang salah.

Setelah diberi pembinaan didepan orang tua, masing masing membuat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuataanya dan berjanji untuk selalumengikuti nasehat orang tua .

Sulsel memiliki kultur yang terbilang tempramentatif. Ada filosofi siri na pacce yang dianut masyarakat yang kerap ditafsirkan keliru. Lengkapnya, di masyarakat tradisional tumbuh kebiasaan mengonsumsi miras berupa ballo.

Ballo ini yang banyak menjadi pemicu kejahatan, terutama kekerasan. Dari fakta yang ada, di masyarakat terjadi banyak konflik karena dua hal. Pertama, karena filosofi siri na pacce yang disalahtafsirkan, dan kedua karena miras (ballo) yang dikonsumsi dianggap sebagai hal yang biasa.

“Seperti fenomena begal sekarang ini, dominan pelakunya itu dalam pengaruh miras. Ada budaya keliru di masyarakat kita yang menganggap miras itu sebagai simbol kelaki-lakian. Bukan laki-laki kalau tidak minum ballo,” ujar budayawan Ishak Ngeljaratan, dalam tulisannya tentang kultur orang-orang Sulsel.

Inilah pemahaman keliru yang membudaya. Akibatnya, budaya kekerasan itu berkembang di masyarakat.

Ishak mengatakan, siri na pacce itu adalah filosofi agung. Maknanya sangat dalam. Ia menyimbolisasi orang-orang Sulsel sebagai orang yang punya siri atau malu.

“Orang Sulsel itu malu kalau berbuat jahat. Malu kalau minum ballo. Malu kalau belum bisa berbuat kebaikan untuk orang banyak,” katanya.

Bagaimana meluruskan prinsip ini?  Kata Ishak, harus dimulai dari keluarga. Setelah itu kekuasaan juga berperan penting. Pemimpin harus memberi teladan bagaimana memimpin dengan benar.

“Pemimpin itu keteladanan. Kalau tidak ada keteladanan, maka jangan salahkan masyarakat jadi brutal,” jelasnya.

Pengamat komunikasi publik, Aswar Hasan berpendapat, prinsip-prinsip dasar siri na pacce memang perlu diperkenalkan lebih dalam kepada anak-anak kita. Sebab, filosofi ini sudah ditafsirkan liar dan tidak bertanggung jawab.

Bahkan ada kelompok masyarakat yang masih menganggap mengonsumsi miras sebagai bagian dari simbolisasi siri na pacce. Mereka merasa tidak hebat kalau tidak minum miras.

Kebiasaan inilah yang mesti dihapus. Stigma tersebut perlu diluruskan lewat kampanye-kampanye kantibmas. Aswar mengaku salut dengan upaya Kapolda yang terus melakukan pendekatan filosofis ke masyarakat.

“Ini bentuk pendekatan polisi secara sosial yang bisa berdampak positif. Apalagi lewat pendekatan spiritual di masjid-masjid, itu akan sangat efektif menggugah masyarakat,” imbuhnya.

Penulis : Qadri

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password