Kunjungi Panti Asuhan, Kapolres Sinjai Berikan Bantuan Sembako

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Kapolres Sinjai Akbp Ardiansyah didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Sinjai Ny. Risa Ardiansyah melaksanakan kunjungan di yayasan Panti Asuhan Al-Hidayah Jl. Persatuan Raya, Kelurahan Balangnipa, Kecamatan Sinjai Utara, Senin (19/06/17).

Dalam kegiatan tersebut Kapolres Sinjai diterima oleh ketua yayasan pantai Asuhan Al-Hidayah Dra. Sitti Marwah dan pada kesempatan ini kapolres sinjai bersama ibu memberikan bantuan kepada panti asuhan dalam bentuk sembako.

Kapolres Sinjai Akbp Ardiansyah saat memberikan bantuan mengatakan saya berterima kasih kepada pengurus panti yang telah dengan ikhlas menampung anak-anak yatim dan mempunyai orang tua, mereka masih membutuhkan kasih sayang kalau bukan kita siapa lagi yang mau mengurus mereka, Saya harapkan mereka dapat tumbuh menjadi anak-anak berguna bagi nusa dan bangsa nantinya.

Kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian sosial antar sesama dan untuk mempererat tali silaturahmi serta berbagi dengan harapan kita dapat meraih keberkahan dalam bulan suci ramadhan.

Selesai bersilaturahmi dan menyerahkan bantuan sembako, Kapolres Sinjai bersama Ibu melakukan foto bersama pengurus panti dan anak-anak panti, serta mengucapkan salam dengan menitipkan harapan ke depan dapat meraih kehidupan yang jauh lebih baik.

Kegiatan santunan di bulan Ramadhan seperti ini, telah menjadi keberkahan dan kebahagiaan tersendiri bagi anak Yatim piatu.

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. (HR al-Bukhari no. 4998 dan 5659)

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim, sehingga imam al-Bukhari rahimahullah mencantumkannya dalam bab: Keutamaan Orang Yang Mengasuh Anak Yatim.

Disalin dari almanhaj.or.id berikut beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits diatas :

  • Makna hadits ini: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Arti “menanggung anak yatim” adalah mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar.
  • Yang dimaksud dengan anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya sebelum anak itu mencapai usia dewasa.
  • Keutamaan dalam hadits ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim dari harta orang itu sendiri atau harta anak yatim tersebut jika orang itu benar-benar yang mendapat kepercayaan untuk itu.
  • Demikian pula, keutamaan ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim yang punya hubungan keluarga dengannya atau anak yatim yang sama sekali tidak punya hubungan keluarga dengannya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan mengasuh anak yatim, yang ini sering terjadi dalam kasus “anak angkat”, karena ketidakpahaman sebagian dari kaum muslimin terhadap hukum-hukum dalam syariat Islam, di antaranya:

  1. Larangan menisbatkan anak angkat/anak asuh kepada selain ayah kandungnya, berdasarkan firman Allah:

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu” (al-Ahzaab/33:5).

  1. Anak angkat (anak asuh) tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua yang mengasuhnya, berbeda dengan kebiasaan di zaman Jahiliyah yang menganggap anak angkat seperti anak kandung yang berhak mendapatkan warisan ketika orang tua angkatnya meninggal dunia.
  2. Anak angkat (anak asuh) bukanlah mahram, sehingga wajib bagi orang tua yang mengasuhnya maupun anak-anak kandung mereka untuk memakai hijab yang menutupi aurat di depan anak tersebut, sebagaimana ketika mereka di depan orang lain yang bukan mahram, berbeda dengan kebiasaan di masa Jahiliyah.

Penulis : Abu Uwais

Editor : Umi Fadilah

Publish : Abu Uwais

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password