Penangkapan Amokrane Sabet menjadi Studi Kasus untuk 50 Perwira Polda Bali

WhatsApp Image 2017-06-19 at 14.19.14

Tribratanews.polri.go.id – Polda Bali, Sering terjadinya penyalahgunaan wewenang oleh aparat kepolisian, menjadi bahan evaluasi pihak Polda Bali. Evaluasi ini guna meminimalisir dan mencegah agar penyalahgunaan wewenang tidak terulang lagi. Sebanyak 50 perwira yang bertugas di Fungsi Reserse, Lalu Lintas, Sabhara, dan Binmas melaksanakan latihan gabungan tentang diskresi kepolisian di Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Singaraja, Senin (19/6).

Kegiatan pelatihan ini berlangsung selama sehari mulai dari pukul 07.00 Wita sampai dengan 17.30 Wita. Waka SPN Singaraja AKBP Waluya, S.I.K. usai menutup kegiatan latihan mengatakan, mengawali pelatihan para peserta diberikan materi pelajaran tentang UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, UU No. 39 Tahun 2009 tentang Hak Asasi Manusia dan Peraturan Kapolri (Perkap) 01 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan Dalam Tindakan Kepolisian.

Usai mendapat materi, para peserta mengikuti latihan role play yang dilatih oleh Gadik atau instruktur SPN Singaraja. Role play atau permainan peran adalah sebuah permainan yang para pemainnya memainkan peran tokoh-tokoh khayalan dan berkolaborasi untuk merajut sebuah cerita bersama. Sehingga dalam latihan tersebut dimainkan layaknya kejadian waktu penanganan kasus penangkapan warga negara Prancis bernama Amokrane Sabet pada 3 Mei 2016 lalu. Dimana pada saat penangkapan tersebut menjadi malapetaka bagi personel Polsek Kuta Utara Brigadir A.A Putu Sudiarta yang kena tikam pisau hingga tewas.
WhatsApp Image 2017-06-19 at 14.19.26
“Cerita itu dipakai latihan, karena digelarnya latihan ini berdasarkan studi kasus yang terjadi di wilayah hukum Polda Bali,” ujar mantan Kapolres Gianyar ini.

Perwira murah senyum dan berkacamata ini menambahkan, untuk memberi semangat para peserta latihan dalam menghadapi kejadian seperti diatas, saat menentukan langkah-langkah penanganannya serta langkah diskresi yang perlu diambil, pihaknya menggunakan sistem perlombaan. “Para Gadik memberi nilai saat melakukan penanganan tersebut, yang mendekati paling benar yang menjadi juara,” imbuhnya.

Secara umum, latihan  yang berlangsung singkat ini adalah untuk menyamakan persepsi saat penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian, sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditentukan. Sehingga para personel dapat  lebih profesional dalam melaksanakan tugas.

Penulis         : Ketut Bina
Ass. Editor   : Made Swanjaya
Publish         : I Made Ardana

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password