Gelar Anjangsana, Polres dan Bhayangkari Sidrap Sambangi Dua Panti Asuhan

Tribratanews.polri.go.id – Sidrap Sulsel, Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-71 Tahun 2017, Kepolisian Resort Sidrap dan Bhayangkari Cabang Sidrap menggelar kegiatan Anjangsana, Kamis (15/6/17) Pagi

Ada beberapa kegiatan yang sifatnya sosial digelar seperti mengunjungi panti asuhan dan menjenguk personil maupun purnawirawan yang menderita sakit menahun.

Tak hanya datang mengunjungi, rombongan Anjangsana yang dipimpin langsung oleh Kapolres Sidrap AKBP Witarsa Aji tersebut juga memberikan tali asih berupa sembako dan uang pembinaan kepada pihak panti asuhan.

Dari pantauan media, ada beberapa panti asuhan yang dikunjungi seperti panti asuhan Aisyiyah Sejahtera Pangkajene dan panti asuhan sejati Muhammadiyah Rappang.

Kapolres menjelaskan bahwa kegiatan sosial ini merupakan kegiatan rutin setiap tahunnya dan telah direncanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

“Selain beribadah dan beramal di bulan suci, kegiatan ini juga memberikan banyak manfaat guna menumbuhkan rasa sosial dan kepedulian terhadap orang lain serta meningkatkan silaturrahmi dengan penghuni , pengurus panti dan saudara kita yang menderita sakit. ” Ujar Witarsa

“Kami juga berharap dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan motivasi terhadap anak-anak panti agar tetap bersemangat dalam belajar sehingga cita-cita yang diimpikan bisa terwujudnya” tutupnya.

Kegiatan santunan di bulan Ramadhan seperti ini, telah menjadi keberkahan dan kebahagiaan tersendiri bagi anak Yatim piatu.

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. (HR al-Bukhari no. 4998 dan 5659)

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim, sehingga imam al-Bukhari rahimahullah mencantumkannya dalam bab: Keutamaan Orang Yang Mengasuh Anak Yatim.

Disalin dari almanhaj.or.id berikut beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits diatas :

  • Makna hadits ini: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Arti “menanggung anak yatim” adalah mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar.
  • Yang dimaksud dengan anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya sebelum anak itu mencapai usia dewasa.
  • Keutamaan dalam hadits ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim dari harta orang itu sendiri atau harta anak yatim tersebut jika orang itu benar-benar yang mendapat kepercayaan untuk itu.
  • Demikian pula, keutamaan ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim yang punya hubungan keluarga dengannya atau anak yatim yang sama sekali tidak punya hubungan keluarga dengannya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan mengasuh anak yatim, yang ini sering terjadi dalam kasus “anak angkat”, karena ketidakpahaman sebagian dari kaum muslimin terhadap hukum-hukum dalam syariat Islam, di antaranya:

  1. Larangan menisbatkan anak angkat/anak asuh kepada selain ayah kandungnya, berdasarkan firman Allah:

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu” (al-Ahzaab/33:5).

  1. Anak angkat (anak asuh) tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua yang mengasuhnya, berbeda dengan kebiasaan di zaman Jahiliyah yang menganggap anak angkat seperti anak kandung yang berhak mendapatkan warisan ketika orang tua angkatnya meninggal dunia.
  2. Anak angkat (anak asuh) bukanlah mahram, sehingga wajib bagi orang tua yang mengasuhnya maupun anak-anak kandung mereka untuk memakai hijab yang menutupi aurat di depan anak tersebut, sebagaimana ketika mereka di depan orang lain yang bukan mahram, berbeda dengan kebiasaan di masa Jahiliyah.

Penulis : Sumarwan

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password