Bhabinkamtibmas Desa Dandang Jadi Pemateri Sosialisasi Kampung Anti Tawuran

Tribratanews.polri.go.id – Lutra Sulsel, Bhabinkamtibmas Desa Dandang Polsek Sabbang Bripka Aswadi  mewakili Kapolsek Sabbang menjadi pemateri pada Sosialisasi Kampung Anti Tawuran di Kantor  Desa Dandang, Kec. Sabbang, Kab. Lutra, Jumat (09/06/17) sekira pukul 22.00 Wita.

Sosialisasi ini turut dihadiri Staf Ahli Bupati Luwu Utara Hakim Bukara, Kepala Desa Dandang Jahidin Patadari, Sertu Kasyanto, Aparat Desa Dandang serta  pemuda Desa Dandang kurang lebih 50 orang.

Nantinya akan dipilih 10 (Sepuluh) orang pemuda sebagai Pelopor Kampung anti Tawuran dan akan dikukuhkan di Rujab Bupati Luwu Utara pada Hari Minggu besok (11/06/17).

Dalam kesempatan tersebut Bhabinkamtibmas menyampaikan arahan dan harapan Kapolres Luwu Utara AKBP Dhafi yakni agar pemuda desa menjadi ujung tombak terciptanya kerukunan umat beragama mengingat Luwu Utara adalah Indonesia Mini multi Suku, budaya dan agama.

“Tumbuhkan rasa memanusiakan manusia tanpa melihat perbedaan suku , agama dan budaya, cegah pemotongan ternak produktif ilegal yang melanggat UU Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan,” ungkap Aswadi membacakan arahan Kapolres Luwu utara.

Dalam menangani konflik Pemerintah Daerah dan Kepolisian telah melakukan berbagai upaya, baik yang bersifat preventif dan represif, namun hal ini tampaknya tidak menyelesaikan masalah yang terjadi, bahkan terkadang menimbulkan konflik lain yang bersifat vertikal.

Akhir-akhir ini adanya upaya baru telah diusahakan guna mengatasi hal ini yaitu penyelesaian konflik yang bersifat Bottom Up dimana masyarakat berperan aktif dalam menyelesaikan konflik tersebut. Dengan menggunakan cara ini diharapkan terjadinya win-win solution diantara pihak yang berkonflik.

Walaupun dalam hukum positif Indonesia tidak mengenal adanya penyelesaian non litigasi tetapi dalam prespektif sosioligi hukum dengan melihat efektivitas berjalannya hukum di masayarakat dan kemanfaatannya maka non litigasi dibenarkan dalam pencegahan konflik. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Napoleon Feut bahwa penyelesaian konflik yang paling mujarab ditingkat lokal dapat dilakukan melalui jalan lembaga lokal sebagai mediasi antar masyarakat, maupun antara pemerintah dengan masyarakat.

Mediator (fasilitator) dalam konflik ini juga harus mendapat kepercayaan dari pihak yang berkonflik. Dalam penyelesaian konflik ini peran mediator dapat diambil dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan kepolisian setempat.

Mediator bertugas untuk memfasilitasi adanya dialog antara pihak yang berkonflik, sehingga semuanya dapat saling memahami posisi maupun kepentingan dan kebutuhan masing-masing, dan dapat memperhatikan kepentingan bersama. Sehingga dari sana akan muncul jalan keluar atau penyelesaian konflik menurut usulan dari pihak-pihak yang berkonflik.

Penulis : Rosdiana

Editor : Astuti

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password