Kapolri Sebut Polisi Harus Belajar Politik, Tapi Bukan Politik Praktis

Tribratanews.polri.go.id – Mabes  Polri. Kapolri Jenderal Tito Karnavian, M.A.,Ph.D mengatakan polisi harus belajar politik tapi bukan politik praktis. Menurutnya, memahami peta politik menjadi salah satu modal Polri untuk bisa melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Hal itu disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, M.A.,Ph.D dalam acara silaturrahmi dan dialog dengan kelompok Cipayung Plus di kediamannya, Jl Pattimura, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (7/6/2017). Sejumlah tokoh turut hadir dalam acara tersebut, salah satunya adalah Bursah Zarnubi.

“Berusaha memahami peta politik. Karena kalau nggak, begitu demo kita yang didikte sama yang demo. Kalau sekarang sudah banyak kenal temen HMI, PMII, PMKRI, begitu demo-demo dikit, kita bisa tanya. Siapa sih di belakangnya?” sebut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, M.A.,Ph.D.

“Kalau dulu nggak. Sebagai polisi murni, begitu ada demo, eh Shabara maju ke depan. Besok siapkan pasukan. Tapi kalau tahu peta politik. Begitu kumpul, tanya Bang Bursah. Siapa yang main itu? Si anu katanya misalkan. Caranya pokoknya siapa yang gerakin? Si anu. Yang bayar siapa? Si anu,” tambahnya beranalogi.

Dengan mengetahui peta politik, menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, M.A.,Ph.D polisi semakin mudah dalam melakukan pengamanan. Kemudian juga bisa memperhitungkan untung-rugi saat meninjau atau menganalisis suatu masalah.

“Sekarang kita itu memahami petanya, apa maksud dan tujuannya lain-lain, sehingga anggota yang di-setting juga nanti dia harus tahu, bertindaknya sampai sejauh ini saja,” sebut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, M.A.,Ph.D.

“Dan yang lebih mantep lagi, kita bisa bisik-bisik juga, ‘bikin heboh dong tapi dukung pemerintah dukung polisi juga ya, untuk keamanan dan persatuan kesatuan bangsa’, karena kita nggak berpolitik polisi itu,” tutupnya sambil bergurau.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian, M.A.,Ph.D mengatakan, di Polri tidak pernah diajarkan soal politik. Sedikit pembahasan soal politik baru dibahas saat perwira mengikuti Sespim dan Sespati.

“Repotnya begitu jadi kapolri tadinya kita murni jadi polisi yang profesional, nangkep maling, teroris, dan lain-lain. Saya pun tidak pernah belajar politik, di Akpol tidak diajarin politik,” ucapnya.

“Saya kemudian belajar sendiri. Belajar politik. Jadi begitu jadi kapolri, saya lihat saya sudah berada di lingkungan politik. Berbicaranya sudah para menteri, parpol, kepala lembaga petinggi negara. Saya masih buta,” imbuhnya.

Mantan Kapolda Metro Jaya itu mengaku pemahamannya tentang politik masih sangat sedikit. Sehingga dia merasa masih terus harus belajar mengenai politik. Untuk itu, jenderal bintang empat tersebut mengaku memperluas jaringan untuk mengenali soal peta politik Indonesia. Termasuk dengan mengadakan silahturahmi dengan para tokoh Cipayung Plus.

“Saya ingin membangun jaringan. Bukan untuk berpolitik, tapi bagaimana saya melihat bahwa, kita harus belajar sosial politik. Terutama politik. Kalau ilmu sosial polisi sudah belajar. Belajar politik pasti juga harus tahu politik praktis,” kata Kapolri.

Namun demikian, ia memastikan tidak ada personel Polri yang terlibat dalam politik praktis.

Editor : Umi Fadilah

Publish : Alam / Veri

Sumber : PROKLAMASI.co.id

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password