DPO Kasus Begal di Bantaeng Dicokok Polisi Dikediaman Kerabatnya

Tribratanews.polri.go.id – Bantaeng Sulsel, Tim Tindak Tegas, Terukur, Terpercaya dan Profesional (T4P) Polres Bantaeng berhasil menangkap IC (18) salah satu DPO pelaku begal (Curas), Senin dini hari (5/6/2017).

Tersangka diringkus di rumah kerabatnya di Kampung Sinoa, Desa Bonto Maccini, Kecamatan Sinoa, Kabupaten Bantaeng. Tersangka merupakan salah satu dari delapan pelaku penyerangan secara bersama-sama dengan menggunakan busur terhadap Saparuddin (22) di Jalan Hasanuddin 30 April 2017 lalu.

Adapun tujuh pelaku lainnya yakni De alias Tegar, WF, SM, IY, Fa, Ak dan AK masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Sehari sebelumnya, Tim T4P melakukan penggerebekan terhadap IC di kediamannya, namun yang bersangkutan melarikan diri,” kata Kapolres Bantaeng AKBP Adip Rojikan.

Ia menjelaskan, tak hanya satu kasus, IC juga diduga terlibat dalam penikaman terhadap Lukman Pajo di Jalan Gagak. Tak sampi di situ, pemuda ini juga diduga terlibat dalam pembusuran terhadap Anjasmara (16 tahun) di Jalan Bissampole, Sabtu (3/6/2017).

“Saat ini tersangka sudah berada di Polres Bantaeng untuk di proses lebih lanjut,” ujarnya.

Pengamat Sosial khusus masalah kemiskinan dari Universitas Indonesia, Priadi Permadi mengatakan, fenomena pelaku aksi begal yang terjadi pada sejumlah kota besar di Indonesia merupakan bentuk kejahatan kriminal yang sejajar dengan masalah ekonomi. Kesenjangan sosial dan kesulitan hidup yang terjadi menjadi salah satu faktor pemicu kejahatan pelaku pembegalan di jalanan.

Pemicu lainnya kemudian ditambah dengan tidak adanya pemerataan lapangan kerja membuat masyarakat terutama pemuda dengan pendidikan rendah semakin sulit untuk mencari penghasilan. Untuk itu, masalah inilah yang utamanya perlu diatasi.

Tak hanya itu, menurut Priadi, faktor kriminal itu juga didorong dengan adanya iklan maupun film di televisi yang menunjukkan hidup bergelimangan harta. Akibatnya, orang pun akan menggunakan segala cara agar bisa menjadi seperti itu.

Selain itu, faktor penegakan hukum pun tak luput dari perannya dalam meningkatkan jumlah kriminalitas. Dengan jumlah aparat kepolisian yang kurang, ditambah faktor ekonomi para penegak hukum tersebut, menjadi faktor lainnya kriminalitas seperti pembegalan meningkat.

“Seharusnya penegak hukum pun memberikan hukuman yang setimpal bagi para pelaku kriminal tersebut. Jangan sampai kasus anak jalanan yang kemudian ditangkap dan bebas setelah ditebus menjadi salah satu faktor membuat anak jalanan tersebut berani melakukan kriminalitas lebih tinggi,” ucapnya.

Solusi yang dapat dilakukan untuk menghindarkan anak-anak dalam masalah seperti ini terutama orang tua dan pemerintah. Para orangtua seharusnya bersikap ekstra hati-hati dan memantau secara rutin setiap tahap perkembangan anaknya. Lalu pemerintah harus bekerja lebih maksimal lagi dalam mensejahterakan rakyatnya.

Misalnya, meringankan biaya pendidikan agar anak-anak memiliki ilmu dan skill yang bisa digunakan untuk meringankan beban orang tua mereka. Lalu memberikan dana/uang jatah bulanan kepada warga miskin. Membatasi jumlah penduduk tiap tiap pulau, sehingga tidak ada pertumbuhan yang terlalu tinggi di salah satu pulau/ pemindahan orang–orang ke pulau lain.

Penulis : Harmeno

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password