Catatan Redaksi : Ngopas Bacaan Yang Cukup Bermakna Biar Tau Sejarah Lahirnya Pancasila 1 Juni

Tribratanews.polri.go.id –  Dalam buku “Bung Karno VS Kartosuwiryo” ada dikisahkan bagaimana suasana hati Soekarno ketika hendak merumuskan Falsafah negara yang akan di proklamirkan itu.

Soekarno gelisah. Mengapa ?

Perjuangan Indonesia beda dengan Kemerdekaan AS, revolusi Oktober Rusia, yang mana palsafah negara sudah di persiapkan dengan matang. Negeri ini merdeka di perjuankan diatas idiologi yang tidak satu warna. Semua komponen bangsa bergerak dengan pemahamannya masing. Namun tujuannya satu yaitu bebas dari kolonialisme. Sekarang harus dipersatukan. Apakah mungkin?

Lantas apa sih itu falsafah ?

Konsep berpikir secara menyeluruh dengan prinsip menemukan kebenaran secara umum dan bersifat azas. Artinya bisa diterima oleh semua pihak yang berbeda paham dan golongan. Tentu metode menerapkan kerangka Filsafah atas dasar ilmiah. Engga bisa sesukanya. Kalau engga punya ilmu yang mumpuni jangan coba coba menerapkan berpikir secara falsafah. Itu sebabnya Bung Karno gelisah menjelang besoknya tanggal 1 Juni harus pidato menyampaikan pendapatnya tentang falsafah negara Indonesia. Dia tidak bisa tidur. Akhirnya dia sholat malam untuk minta petunjuk dari Allah. Saat itulah timbul ilham lahirnya pemikiran tentang Pancasila. Ya dia akan pidato tentang Pancasila. Setelah itu dia bisa tidur dan terbangun lagi ketika hendak sholat subuh. Pikiran dan batinnya tetap tidak goyah.

Soekarno tidak menulis ilham itu. Semua ada dalam pikirannya tentang Pancasila. Namun ketika ia sampaikan dalam rapat BPUPKI , semua terpesona. Dan menjadi pidato yang fenomenal dan monumental.

Soekarno menyebut visi tentang Pancasila yang memuat , kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau peri kemanusiaan, persatuan dan kesatuan, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan yang Maha Esa.

Namun rapat maraton itu tidak menemukan kata satu. Utusan agama Islam mengotot agar negara yang akan didirikan sesuai dengan syariat islam. Namun pihak agama lain menolak. Karena memang umat Islam secara demografi mayoritas tapi secara geograpi umat Islam minoritas. Belum lagi soal etnis, utusan Kalimantan mempertanyakan apa kepentingan kami harus bersatu dengan orang jawa? Utusan aceh pun bertanya mengapa kami harus bersatu dengan orang jawa? kami aman aman saja tanpa adanya Indonesia. Belum lagi masing masing daerah meragukan negara yang akan didirikan nanti hanyalah kepanjangan tangan dari kolonialisme atas nama negara.

Sampai akhirnya Soekarno dengan suara lirih berkata kepada semua hadirin ” Jika benar semua ini harus diselesaikan lebih dahulu, sampai rumit, maka saya tidak akan mengalami indonesia merdeka, tuan-tuan tidak akan mengalami indonesia merdeka, dan kita semua tidak akan mengalami Indonesia merdeka sampai keliang kubur ” semua terdiam. Bayang bayang perpecahan ada di pelupuk mata.

Kemudian Agus Salim sebagai tokoh mewakili golongan Islam terpelajar dan ulama, tampil berbicara. Agus Salim bertanya kepada hadirin. “Mengapa kita harus bersatu ?

Semua terdiam saling pandang.

Agus Saling menjawab sendiri “Kita bersatu karena Tuhan. Semua kita sepakat kalaulah bukan karena Tuhan tentu kita tidak ingin menyabung nyawa untuk kemerdekaan. ” Semua hadirin menganguk. Mereka tidak berbeda pendapat soal ini.

“Nah kalau begitu, negara yang akan didirikan ini adalah negara yang didasarkan kepada Ketuhanan”

” Seperti apakah Tuhan itu ?

” Bukan satu , bukan banyak tapi ESA. Ia bisa satu , bisa juga lain.Tak penting ,karena hanya Allah yang tahu ujudnya.”

Salah satu peserta bertanya ” Kalau negara di dirikan karena Tuhan yang maha ESA, maka negara itu harus menjamin kemanusiaan yang adil. “

Agus salim mengangguk. Semua sepakat.

Namun salah satu anggota menambahkan, ” Adil yang bukan dasarnya subjective tapi atas dasar akhlak. “

” Apa itu ?

” Ya beradab atas dasar nilai nilai yang diajarkan oleh Agama, bukan ilmu manusia.”

” Jadi kalau begitu seharusnya kemanusiaan yang adil dan beradab”

Semua sepakat.

Nah..”lanjut Agus Salim..” Karena Tuhan negara didirikan dan dilaksanakan atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Apakah kita sepakat untuk bersatu ? siapkah kita bersatu ?

Semua setuju. Maka ditetapkanlah Persatuan Indonesia. Ini bukanlah paham nasionalisme seperti yang disampaikan Soekarno. Tapi bersatu karena Tuhan, bukan karena idiologi atau Isme darimanapun sumbernya.

Hatta bertanya ” Bila kita sepakat bersatu,maka seperti apa bentuk negara yang akan didirikan nanti ?

Salah satu peserta menjawab bahwa “itu bukan negara kerajaan,bukan kesultanan , bukan khilafah, bukan pula republik seperti negara lainnya. “

” jadi seperti apa negara itu ? Kejar Hatta.

“Bentuk negara itu adalah negara kerakyatan” jawab peserta.

“Siapa yang memimpin ?

” tentu oleh mereka yang hikmat. Beriman dan berilmu.

” Apakah cukup yang berilmu dan beriman ? bagaimana bila dia zolim?

” Tentu dia harus bijaksana. Akhlak nya harus baik. “

” Bagaimana proses pengambilan keputusan dalam kepemimpinan itu. Bukankah kita tidak sepakat negara kerajaan ?

” Dalam bentuk permusyawaratan atas dasar kekeluargaan”

“Siapa yang akan boleh bermusyawarah itu ?

“Mereka yang menjadi wakil rakyat , golongan dan agama.”

‘Baiklah kalau begitu maka kita sepakat mendirikan negara bentuknya adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanan dalam permusyawaratan perwakilan.”

Semua hadirin sepakat.

“Lantas apa tujuan negara didirikan ? tanya Hatta.

” Karena dasarnya adalah Tuhan maka tujuannya adalah keadilan.”

“Adil itu hanya milik Allah. Kita manusia tidak akan mampu mencapai keadilan itu walau seberapa keras kita ingin mencapainya. Adil apa ? “Kata Agus Salim.

” Keadilan sosial. Artinya keadilan yang sesuai dengan fitrah masing masing orang perorang” Kata Hatta.

” Baiklah kalau begitu akan dirikan negara dengan tujuan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.”

Semua sepakat. Soekarno sebagai pemimpinan rapat menyampaikan ringkasan hasil rapat yang terkenal dengan sebutan Pancasila. Dengan urutan
1. Ketuhanan yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Walaupun urutan Pancasila tidak seperti pidato Soekarno namun tokoh Islam seperti Agus Salim , Wahid Hasyim mampu mengarahkan sidang dengan efektif dan produktif sehingga Pancasila dapat diterima oleh semua anggota.

Suasana rapat ketika itu sangat sejuk. Mereka para pendiri negara berdebat dengan cerdas dan didorong oleh cinta dan kasih sayang.

Namun setelah falsafah negara ditentukan maka piagam Jakarta dibuat dan kelompok islam menambahkan kalimat “melaksanakan syariat islam bagi yang memeluk agama islam. Para peserta tidak begitu pusing soal tambahan kalimat itu. Belakangan juga ketika tim 9 menetapkan UUD 45 dimana pada pembukaan tidak mencantumkan pancasila sila pertama menyebut 7 kata tentang kewajiban melaksanakan syariah Islam bagi pemeluknya, juga tidak mempermasalahkan. Karena dalam Tim 9 ada Agus Salim dan Wahid Hasyim sebagai wakil golongan agama.

Apakah UUD 45 bisa diubah?

Bisa. Karena semua sepakat bahwa UUD 45 akan dirubah bila keadaan negara sudah aman dan mendapatkan pengakuan penuh.

Ketika reformasi UUD 45 diubah menjadi UUD 2003 oleh MPR dibawah pimpinan Amien Rais, dan Presiden Gus Dur, yang walau mereka golongan agama Islam, tetap tidak mengubah sila pertama Pancasila.

Nah pertanyaannya adalah Mengapa sekarang ada orang yang engga jelas reputasinya ingin mengubah Pancasila ?

Sumber : Dari Berbagai Sumber

Editor : Umi Fadilah 

Publish : Alam / Veri 


0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password