Polrestabes Surabaya Ringkus Pembuat Jamu Tanpa Surat Izin Edar

Tribratanews.polri.go.id-Polda Jawa Timur, Satreskrim Polrestabes Surabaya, bongkar peredaran jamu ilegal di Kota Pahlawan. Jamu bermerk “Tarzan X” dan beberapa merek lain, diproduksi oleh Lilik Sunarti (57) warga Bakungan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.

Jamu tradisional yang berkhasiat untuk menghilangkan capek, obat kuat, melancarkan buang air kecil dll, diedarkan Lilik ke beberapa kota, salah satunya di Surabaya. Jamu-jamu itu diedarkan melalui perantara sales.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Shinto Silitonga mengatakan, pengungkapan kasus ini sendiri, bermula saat Tim Satgas Pangan melakukan razia di daerah Demak.

Saat itu, tim khusus dari pihak kepolisian untuk mengamankan bahan pangan di Surabaya saat menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2017 ini, mendapati jamu yang dikemas dalam botol kecil dengan merek “Tarzan X” tersebut, dijual oleh Maryanto, warga jalan Demak No 47-B.

“Dari hasil pendalaman kami, jamu ini dibeli oleh saudara Maryanto dari produsennya di Banyuwangi. Jamu-jamu tersebut, ternyata juga tidak memiliki izin edar,” kata Shinto di Mapolrestabes Surabaya, Senin sore (29/5/2017).

Maryanto memesan jamu-jamu tradisional ini dari sales bernama Soebari. Untuk kemudian, jamu-jamu tersebut dikirim dari Banyuwangi ke Surabaya menggunakan mobil pick-up P 8754 VN.  Maryanto membeli jamu ini dari sales dengan harga Rp 7.500 perbotolnya. Untuk kemudian dijual kembali dengan harga Rp 13. 000,” katanya.

Dari pengungkapan kasus ini, polisi melakukan pengembangan dan menggerebek sebuah home industri milik saudari Lilik Sunarti, warga Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Home industri pembuat jamu tradisional itu sendiri tidak berada di rumah Lilik, tapi di Dusun Krajan, Kecamatan Kabat.

“Tersangka Lilik ini mengaku belajar meracik jamu dari kakaknya. Dan kakaknya sendiri juga pernah ditahan karena kasus yang sama, yaitu meracik jamu kuat sendiri tanpa ada izin edarnya,” kata Shinto.

Sementara jamu yang diproduksi Lilik, menggunakan bahan-bahan dari daun kumis kucing, sentok (kulit pohon), jahe, cabe dan gula merah. Semua bahan ini dicampur dengan air, lalu direbus. Setelah itu, dikemas dalam botol yang sudah diberi label atau merek.

“Jamu-jamu ini, kalau racikannya tidak sesuai prosedur, bisa merusak kesehatan. Kan tidak ada izin edarnya. Kita juga temukan ada bahan kimia untuk penguat yang dijadikan bahan racikan jamu,” tandas Shinto.

Karena tidak melengkapi izin edar pada jamu tradisional racikannya, tersangka akan dijerat Pasal 196 dan atau Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36/2009 tentang kesehatan.

Penulis    : Herry

Editor       : Umi Fadilah

Publish     : Sugeng P

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password