Kabar Polisi Meletuskan Tembakan Secara Membabi Buta di Bima Hoax

 

Tribratanews.polri.go.id – Mabes polri. Informasi hoax atau bohong yang beredar di media sosial seperti tak ada habis-habisnya. Selalu saja ada informasi tak benar yang menjadi viral di medsos. Dan masih saja ada yang percaya dan menyebarkan ulang hoax tersebut.

Kabar hoax yang paling terkahir adalah terkait dengan informasi anggota kepolisian yang disebut menembak secara membabi buta saat membubarkan tawuran antarwarga Desa Dadibou dengan Desa Penapali. Bima, Nusa Tenggara Barat.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan polisi melakukan SOP dalam melerai tawuran tersebut. Ia menegaskan, kabar yang beredar di medsos itu tidak benar. Justru anggota kepolisan turut menjadi korban karena dipanah kakinya saat sedang melerai.

“Saya luruskan, tidak ada (Satuan, red) Brimob di Polres Bima. Brimob adanya di Polda. Di Bima, anggota kita dipanah kakinya. Anggota Brimob juga jadi korban,” kata Setyo ketika dikonfirmasi wartawan di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (29/5/2017).

Kabar tersebut menjadi viral setelah pemilik akun Facebook Nia A Nurningsih Aswin menuliskan kronologi pembubaran tawuran tersebut, serta beredar broadcast message yang berisi cerita serupa yang entah siapa penulisnya.

Satu desa bernama Talabiu, disebut-sebut dihujani peluru oleh aparat, padahal warganya tak terlibat tawuran.

Dikatakan dalam tulisan tersebut, sebanyak 10 warga mengalami luka tembak, baik oleh peluru tajam maupun peluru karet yang dilontarkan Satuan Brimob Polres Bima.

“Agar diketahui bahwa berangkat dari kejadian tawuran, kemudian kita ada Protap (Prosedur Tetap) I, mulai dari negosiasi, kemudian menggunakan tangan tanpa senjata, sampai peluru karet ditembak pantul,” jelas Irjen Setyo Wasisto.

Irjen Setyo Wasisto mengatakan diskresi kepolisian melepaskan tembakan saat itu cukup beralasan. Karena upaya negosiasi yang diinisiasi polisi dengan warga yang yang saling bertikai mengalami kebuntuan.

Oleh sebab itu aparat mengambil tindakan tegas dan terukur, untuk membubarkan tawuran. Ia juga mengatakan bahwa jenis peluru yang dipakai untuk membubarkan tawuran adalah peluru karet, bukan peluru tajam.

“Ketika ditembak pantul, kena sasaran. Nggak betul kalau (tembakan, red) membabi buta. Kita gunakan senjata ada aturannya. Kita negosiasi nggak bisa, kita harus ambil tindakan tegas karena dilindungi undang-undang,” terang Irjen Setyo Wasisto.

Berikut isi pesan berantai tersebut:

INFO PENTING DARI BIMA!

Aksi brutal aparat kepolisian terjadi lagi

Telah terjadi penembakan membabi buta oleh sekelompok satuan brimob polresta kab Bima pada jam 16.05 wib yang mengorbankan kurang lebih 10 orang. Salah seorang pemuda yang benama Hendra (21 tahun) di tembak di dalam rumahnya dengan 3 peluru tajam tembus ke dalam tubuhnya, di bagian punggung dan di bagian betis. Leon(23 tahun) 1 timah panas. Joe (18 tahun) 1 timah panas menembus kupingnya. Dan belasan orang terkena peluru karet. Hendra saat ini kritis sudah di larikan ke rumah sakit. Warga dan sejumlah pemuda yang sedang duduk santai di pinggir jalan di todong dan di berondong peluru tajam tanpa alasan yang jelas. Bahkan di atas rumah di tembaki.

Aksi brutal yang di lakukan oleh satuan brimob berawal dari upaya melerai konflik antar desa dadibou dan pena pali. Namun tidak termaksud desa (talabiu) yang di brondong oleh satuan brimob dengan peluru tajam. Menurut keterangan dari salah satu korban Tovan (muma), dia lagi duduk santai dengan kawan-kawannya di salah satu rumah saudaranya. Sejumlah brimob datang mengendarai sepeda motor dengan biadabnya menembak secara brutal anak-anak, ibu-ibu tanpa alasan yang jelas. Mereka melakukan penyisiran ke kampung-kampung, seolah desa talabiu merupakan desa yang berkonflik. Saya juga di todong dengan senjata, ‘ujar Muma’.

Orang yang selesai beribadah pun tak luput dari kebengisan satuan brimob. Mulai dari wilayah barat sampai timur perkampungan di brondong menggukan peluru tajam. Warga lari berhamburan menyelamatkan diri kaget Melihat brimob menembak dengan babi buta. Kejadian ini bukanlah kali pertama polresta menyalahi protap. Baru-baru ini satuan polresta Bima pernah menghujani peluru tajam terhadap warga laju dan tolouwi kabupaten bima Aksi kesatuan brimob ini semakin menjelaskan kepada masyarakat Bima betapa jahatnya institusi kepolisian, mendidik menciptakan mesin pembunuh bagi rakyat. Mereka harusnya hadir sebagai keamanan malah berubah menjadi pelaku pembunuh masyarakat

Sekarang ibu-ibu, anak di bawah umur masih mengalami traumatik mendalam akibat kebrutalan brimob. Mereka berlaga seperti anjing herder yang haus akan darah. Tak memiliki kemanusiaan dan berhati iblis. Kuasanya melebihi kuasanya Tuhan.

Oleh karnanya:

1. Desak kapolri mengusut tuntas atas pelanggaran HAM yang di lakukan satuan brimob di desa Talabiu

2. Copot Kapolres Bima dan Oknum Anggota Penembak Warga Talabiu

3. Kapolres Bima harus bertanggung jawab atas insiden berdarah di desa talabiu bima.

Editor : Kang Iqbal Asik

Publish : Alam / Veri

Sumber: PROKLAMASI.co.id

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password