Masuki Malam Ketiga Puasa, Pemuda di Jalan Abu Bakar Lambogo Terlibat Tawuran

Tribratanews.polri.go.id – Makassar Sulsel, Masuki malam ketiga ibadah puasa diwarnai tawuran antara kelompok pemuda di Jalan Abu Bakar Lambogo Lr. 3 melawan kelompok pemuda RK6 Kelurahan Bara-Barayya Makassar, Senin (29/5/17).

Pada pukul 21.50 wita, sepuluh orang  pemuda yang  tidak diketahui identitasnya mengendarai motor melintas di jalan Abu Bakar Lambogo dan melepaskan anak panah terhadap seorang lelaki Dandi (15) yang sedang duduk di depan rumahnya. Lalu kelompok pemuda tersebut melarikan diri kearah jalan Veteran Utara.

Kejadian itu memancing kelompok pemuda Abubakar Lambogo untuk melakukan aksi balas dendam. Namun Personil Polsek Makassar yang cepat datang ke lokasi kejadian berhasil menghalaunya.

Kapolsek Makassar Kompol Drs. Saiful Alam langsung turun mengamankan  lokasi kejadian perang kelompok.

Sekitar pukul 23.10 Wita sekitar empat  pemuda yang tidak diketahui identitasnya kembali melintas di depan toko rimo Jl. Abubakar Lambogo Makassar membawa parang dan melarikan diri ke arah RK 6 Kel. Bara Baraya sehingga kelompok pemuda Jl. Ablam Lr. 3 (toko rimo) melakukan aksi balasan dan terjadi tawuran antara kedua kelompok tersebut menggunakan batu, busur dan kembang api di Jl. Abubakar Lambogo (samping toko Alfa Mart).

Tim Patmor Dit Sabhara Polda Sulsel langsung menuju lokasi dan membubarkan tawuran menggunakan gas air mata. Akhirnya  situasi kembali kondusif. Sekitar pukul 00.30 Wita Tim Resmob gabungan jajaran Polrestabes Makassar dan Patmor Sat Sabhara Polrestabes Makassar tiba di TKP dan langsung melakukan penyisiran di sekitar wilayah Abu Bakar Lambogo.

Sampai saat ini, personil Polsek Makassar yang dipimpin Kapolsek Makassar Kompol Drs. Saiful Alam standby di TKP guna mencegah terjadinya kembali aksi tawuran.

Dalam menangani konflik Pemerintah Daerah dan Kepolisian telah melakukan berbagai upaya, baik yang bersifat preventif dan represif, namun hal ini tampaknya tidak menyelesaikan masalah yang terjadi, bahkan terkadang menimbulkan konflik lain yang bersifat vertikal.

Akhir-akhir ini adanya upaya baru telah diusahakan guna mengatasi hal ini yaitu penyelesaian konflik yang bersifat Bottom Up dimana masyarakat berperan aktif dalam menyelesaikan konflik tersebut. Dengan menggunakan cara ini diharapkan terjadinya win-win solution diantara pihak yang berkonflik.

Walaupun dalam hukum positif Indonesia tidak mengenal adanya penyelesaian non litigasi tetapi dalam prespektif sosioligi hukum dengan melihat efektivitas berjalannya hukum di masayarakat dan kemanfaatannya maka non litigasi dibenarkan dalam pencegahan konflik. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Napoleon Feut bahwa penyelesaian konflik yang paling mujarab ditingkat lokal dapat dilakukan melalui jalan lembaga lokal sebagai mediasi antar masyarakat, maupun antara pemerintah dengan masyarakat.

Mediator (fasilitator) dalam konflik ini juga harus mendapat kepercayaan dari pihak yang berkonflik. Dalam penyelesaian konflik ini peran mediator dapat diambil dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan kepolisian setempat.

Mediator bertugas untuk memfasilitasi adanya dialog antara pihak yang berkonflik, sehingga semuanya dapat saling memahami posisi maupun kepentingan dan kebutuhan masing-masing, dan dapat memperhatikan kepentingan bersama. Sehingga dari sana akan muncul jalan keluar atau penyelesaian konflik menurut usulan dari pihak-pihak yang berkonflik.

Penulis : Qadri

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password