Jajaran Perwira Reskrim Polrestabes Makassar Ikuti Rakor Badan Narkotika Provinsi Sulsel

Tribratanews.polri.go.id – Makassar Sulsel, Badan Narkotika Provinsi (BNP) Sulawesi Selatan menggelar rapat koordinasi (Rakor) dengan tema “Capacity building for law enforcement and services providers on strategies for rehabillitation of people with drug addiction and victim of drug abuse who involved in the criminal justice system in indonesia” di Hotel Melia Jl. Mappanyukki Kota Makassar.

Acara tersebut berlangsung selama tiga hari dari hari senin (22/07) hingga Rabu (24/07).

Peserta rakor dihadiri oleh para perwira Reskrim jajaran Polrestabes Makassar dan dari Polsek Bontoala, giat rakor tersebut dibuka dan ditutup oleh Kepala BNP Sulsel Brigjen Pol A. Takdir Rahman Tiro.

Kepala BNP mengharapkan dengan adanya giat koordinasi dan strategi rehabilitasi bagi pecandu, penyalahguna dan korban penyalahguna narkotika di indonesia agar para penegak hukum khususnya penyidik polri dapat merehabilitasi tersangka pengguna atau pemakai narkoba sesuai dengan tahapan-tahapan rehabilitasi yang harus dijalani.

Lebih lanjut Brigjen Pol A Takdir Rahman Tiro mengatakan adapun tugas BNN adalah mencegah, memberantas, dan rehabilitasi pengguna narkoba. Oleh karena itu melalui kegiatan rakor lintas sektor lintas program, diharapkan agar semua komponen bangsa khususnya dikota makassar harus memerangi narkoba.

Peredaran dan penyalahgunaan narkotika di Sulawesi Selatan kian marak. Hal itu terlihat dari banyaknya pengungkapan kasus dan rehabilitasi penyalahguna narkoba. Beragam upaya, baik penindakan dan pencegahan pun terus digalakkan. Utamanya upaya memutus mata rantai peredaran barang haram tersebut.

Kepala Biro Napza dan HIV/AIDS Provinsi Sulsel, Endang Sukarsih mengatakan, sinergitas seluruh pihak sangat diperlukan untuk memerangi narkotika. Terlebih, sangat banyak pintu masuk, baik itu jalur utama maupun jalur tikus dari para penyelundup narkotika.

“Ada 62 pintu masuk terutama jalur laut di Sulsel yang bisa dimasuki untuk mengedarkan narkoba. Untuk mengantisipasinya, diperlukan sinergitas instansi, seperti Dinas Perhubungan,” kata Sri beberapa waktu lalu.

Khusus pintu masuk peredaran narkotika, dibutuhkan adanya pengawasan khusus dan penjagaan berkelanjutan di tiap pelabuhan. Dengan pengawasan melekat tersebut, akan mempersempit ruang gerak para penyelundup narkotika.

Akademisi dari Unismuh Makassar, Arqam Azikin, mengatakan narkotika termasuk extra-ordinary crime alias kejahatan luar biasa. Artinya, penanganannya pun membutuhkan usaha-usaha ekstra. Narkotika dilanjutkannya memang merupakan ancaman generasi muda dan membahayakan ketahanan bangsa.

“Program pencegahan narkoba yang dilakukan BNN merupakan salah satu program nasional pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang harus didukung oleh segala elemen. Mengenai kepemimpinan, haruslah mempunyai agenda kepemimpinan yang terstruktur dalam hal penanganan narkoba,” tuturnya.

Penulis : Bara

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password