20 Pelaku Judi Sabung Ayam di Kelurahan Walannae Ditangkap Satreskrim Polres Bone

Tribratanews.polri.go.id –Bone Sulsel, Satreskrim Polres Bone berhasil menangkap 20 pelaku judi sabung ayam. Kedua puluh pelaku tersebut ditangkap saat sedang asik melakukan judi sabung ayam di Malajena, Kelurahan Walannae, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sabtu (20/5/17) sekira pukul 21.00 Wita.

Salah seorang pelaku yang diketahui berinisial JD alias JU (32) warga jalan Urif Sumoharjo Kelurahan Walannae diamankan lantaran diduga sebagai bandar pengepul uang judi dan menyediakan arena ring sabung ayam.

Bermula dari informasi dari salah seorang anggota Sat Reskrim bahwa di daerah Malajena dijadikan area sabung ayam.

Berangkat dari informasi tersebut, anggota reskrim Polres Bone yang dipimpin oleh Kasat Reskrim Akp Hardjoko, S.H langsung menyusun rencana dan menuju Tempat kejadian perkara (TKP) untuk menangkap pelaku. Saat penggerebekan, 20 pelaku berhasil diciduk.

Selain kedua puluh pelaku yang diamankan, aparat berpakaian preman tersebut juga turut mengamankan barang bukti berupa empat ekor ayam sabung (bangkok), dua ring arena sabung ayam dan uang taruhan sebanyak Rp 5.435.000 serta lima puluh delapan unit sepeda motor yang berada di tempat kejadian perkara (TKP) diduga ditinggal oleh pemiliknya saat pengerebekan.

Akp Hardjoko mengatakan, pelaku JU bertaman 19 orang tersebut bersama barang buktinya diamankan di Mapolres Bone  untuk menjalani pemeriksaan di Sat Reskrim Polres Bone.

“Saat ini, barang bukti dan kedua puluh orang yang diamankan masih menjalani pemeriksaan di Sat Reskrim Polres Bone,” kata Hardjoko.

Perjudian merupakan salah satu bentuk penyakit sosial. Perjudian sudah ada dimuka bumi ini beribu-ribu tahun yang lalu. Dalam bermain pun kadang-kadang kita tanpa sadar telah melakukan perbuatan yang mengandung unsur perjudian secara kecil-kecilan.

Misalnya, dalam bermain kelereng, lempar dadu, bermain kartu, dan sebagainya, siapa yang menang akan mendapatkan hadiah tertentu, yang kalah akan memberikan atau melakukan sesuatu sesuai kesepakatan. Semua itu menunjukkan bahwa dalam permainan tersebut ada unsur perjudian. Ada sesuatu yang dipertaruhkan dalam permainan judi.

Perjudian merupakan penyakit sosial yang sangat buruk. Kemenangan yang dihasilkan dari perjudian tidak akan bertahan lama. Justru akan berakibat pada pengrusakan karakter individu dan akan merusak kehidupannya. Banyak sudah fakta menceritakan bahwa pemenang judi tidak selalu memiiki hidup yang sejahtera, sebagian besar mengalami kemiskinan yang begitu parah dan mengalami alianasi (keterasingan) dari keluarga dan masyarakat.

Kehidupan yang semestinya dapat diperoleh dan dinikmati dengan keluarga dapat berubah menjadi keburukan. Benar adanya bilamana Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat [5] berfirman : bahwa judi adalah perilaku syaitan, bila tidak dijauhi maka akan menimbulkan permusuhan dan kebencian. Konflik ditimbulkan akan merusak keharmonisan keluarga, dan masyarakat akhirnya kehidupan yang bermakna sebagai hamba Tuhan tidak akan diperoleh.

Kreativitas memodifikasi judi dapat kita lihat diberbagai tempat. Jenis judi pun bermacam-macam dari yang bersifat sembunyi-sembunyi sampai yang bersifat terbuka. Judi yang sembunyi-sembunyi misalnya togel (toto gelap), adu sabung ayam jago, permainan kartu dengan taruhan sejumlah uang. Sedangkan judi yang terbuka, misalnya kuis dengan SMS dengan sejumlah hadiah uang atau barang yang dilakukan oleh berbagai media baik cetak maupun elektronik.

Perbuatan judi merupakan perilaku yang melanggar terhadap kaidah-kaidah, nilai-nilai, dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Pelanggaran ini tidak saja hanya pada adat dan kebiasaan masyarakat, tetapi juga melanggar norma hukum. Bagi individu atau kelompok yang melakukan perjudian, maka akan mendapat sanksi baik oleh masyarakat maupun berupa sanksi hukum.

Sanksi masyarakat misalnya dikucilkan oleh masyarakat, dipergunjingkan, tidak dihargai dan lain sebagainya. Sedangkan secara hukum perjudian merupakan pelanggaran terhadap hukum posistif seperti yang termaktuk dalam KUHP pasal 303 dengan selama-lamanya dua tahun delapan bulan (2 tahun 8 bulan) atau denda sebanyak-banyknya sebesar Rp.600.000.

Penulis : Ros

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password