Baru Dua Bulan Keluar Sel, Residivis Kasus Begal Kembali Diringkus Resmob Polres Bone

Artikel, Baru Dua Bulan Keluar Sel, Residivis Kasus Begal Kembali Diringkus Resmob Polres Bone

Tribratanews.polri.go.id – Bone Sulsel, Kasmir alias Miming alias Barumpungnge (33) warga Dusun Empagae Desa Palongki Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone. Provinsi Sulawesi Selatan ini harus kembali berurusan dengan pihak kepolisian karena terbukti sebagai pelaku Begal.

Parahnya, Barumpungnge sebagai residivis kasus pencurian dengan kekerasan (Begal) ini akhirnya kembali diamankan Tim Reserse Mobile (Resmob) unit III Polres Bone yang dipimpin Aiptu M. Riad, Jumat  (19/5) setelah baru dua bulan keluar dari tahanan Rutan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klass II A Watampone dengan kasus yang sama.

Hasil introgasi aparat, Barumpungnge mengaku telah melakukan aksi begal di Cabalu Kelurahan Mattiro Walie Kabupaten Bone pada 30 Maret 2017 lantaran himpitan ekonomi yang dideritanya.

Dari tangan Barumpungnge, aparat berpakaian preman itu berhasil menyita barang bukti berupa satu unit sepeda motor Honda Beat dengan nomor Polisi DW 2099 AJ warna hitam.

Penangkapan tersebut berdasarkan laporan Polisi LP/ 161/ IV/ 2017/ SPKT/ Res Bone, tanggal 30 Maret 2017.

Kasat Reskrim Polres Bone, Akp Hardjoko, S.H  membenarkan pihaknya telah mengamankan pelaku di Dusun Empagae Desa Palongki Kecamatan Tellu Siattinge, Senin (17/8).

“Pelaku ini, kembali berhasil diamankan. Kita jerat dengan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan yang ancaman hukumannya diatas 5 tahun penjara,” singkatnya.

Pengamat Sosial khusus masalah kemiskinan dari Universitas Indonesia, Priadi Permadi mengatakan, fenomena pelaku aksi begal yang terjadi pada sejumlah kota besar di Indonesia merupakan bentuk kejahatan kriminal yang sejajar dengan masalah ekonomi. Kesenjangan sosial dan kesulitan hidup yang terjadi menjadi salah satu faktor pemicu kejahatan pelaku pembegalan di jalanan.

Pemicu lainnya kemudian ditambah dengan tidak adanya pemerataan lapangan kerja membuat masyarakat terutama pemuda dengan pendidikan rendah semakin sulit untuk mencari penghasilan. Untuk itu, masalah inilah yang utamanya perlu diatasi.

Tak hanya itu, menurut Priadi, faktor kriminal itu juga didorong dengan adanya iklan maupun film di televisi yang menunjukkan hidup bergelimangan harta. Akibatnya, orang pun akan menggunakan segala cara agar bisa menjadi seperti itu.

Selain itu, faktor penegakan hukum pun tak luput dari perannya dalam meningkatkan jumlah kriminalitas. Dengan jumlah aparat kepolisian yang kurang, ditambah faktor ekonomi para penegak hukum tersebut, menjadi faktor lainnya kriminalitas seperti pembegalan meningkat.

“Seharusnya penegak hukum pun memberikan hukuman yang setimpal bagi para pelaku kriminal tersebut. Jangan sampai kasus anak jalanan yang kemudian ditangkap dan bebas setelah ditebus menjadi salah satu faktor membuat anak jalanan tersebut berani melakukan kriminalitas lebih tinggi,” ucapnya.

Solusi yang dapat dilakukan untuk menghindarkan anak-anak dalam masalah seperti ini terutama orang tua dan pemerintah. Para orangtua seharusnya bersikap ekstra hati-hati dan memantau secara rutin setiap tahap perkembangan anaknya. Lalu pemerintah harus bekerja lebih maksimal lagi dalam mensejahterakan rakyatnya.

Misalnya, meringankan biaya pendidikan agar anak-anak memiliki ilmu dan skill yang bisa digunakan untuk meringankan beban orang tua mereka. Lalu memberikan dana/uang jatah bulanan kepada warga miskin. Membatasi jumlah penduduk tiap tiap pulau, sehingga tidak ada pertumbuhan yang terlalu tinggi di salah satu pulau/ pemindahan orang–orang ke pulau lain.

Penulis : Qadri

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password