Mengantre itu tidak Sulit

oleh Hasanudin Abdurakhman

Doktor di bidang fisika, lulusan Tohoku University, Jepang. Bekerja di perusahaan Jepang

 

Ya, mengantre itu tidak sulit. Kita hanya perlu berbaris mengikuti orang atau kendaraan di depan kita. Saat yang di depan bergerak maju, kita juga ikut bergerak. Begitu seterusnya, sampai giliran kita tiba. Antre adalah menunggu giliran. Kalau kita lakukan dengan tertib, menunggu giliran itu akan jadi lebih mudah.

Berebut itu lebih sulit. Perhatikan misalnya orang-orang yang berebut untuk menerima sedekah pada bulan puasa. Mereka berdiri berdesak-desakan, berimpit, saling dorong. Itu terjadi selama berjam-jam. Berdiri biasa saja sudah melelahkan, masih ditambah lagi dengan terjepit dan terdorong. Sungguh melelahkan. Padahal, kalau mereka antre dengan tertib, mereka bisa menunggu giliran sambil duduk.

Demikian pula antrean kendaraan, saat masuk atau keluar tol, atau saat jalan macet. Kalau antre dengan tertib, sebenarnya kita bisa lebih cepat dapat giliran, karena pergerakan kendaraan lebih lancar. Kalau tidak antre, banyak waktu terbuang percuma saat saling berebut. Bahkan ada kalanya sesama kendaraan tak bisa bergerak, karena tak ada yang mau memberi celah untuk bergerak. Tak mau mengalah, lalu sama-sama tak bergerak.

Belum lagi risiko bersenggolan dan bertabrakan. Karena tak berbaris rapi dan saling serobot, jarak antar kendaraan tak terjaga dengan baik. Saling sodok, saling potong, adu nyali. Akhirnya, bertabrakan.

Antre, sekali lagi, lebih memudahkan dan lebih nyaman.

Kenapa enggan antre? Karena tak sabar menunggu. Ini sifat orang yang tak mau menerima kenyataan. Kenyataannya kita memang harus menunggu giliran, maka kita harus atur pikiran kita bahwa itu keadaan yang harus kita terima. Menolak kenyataan itu akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam pikiran. Itu menimbulkan stress.

Stress punya akibat buruk jangka pendek dan jangka panjang. Secara jangka pendek, saat stress itu kita mengalami lonjakan emosi. Kita kesal, marah-marah, dan mengumpat. Itu menyebabkan tekanan darah meningkat, dan denyut jantung lebih cepat. Bila itu sering terjadi secara rutin, secara jangka panjang akan berpengaruh pada kinerja jantung, pembuluh darah, dan ginjal. Singkat kata, tak sabar menunggu akan mengganggu kesehatan kita.

Kita tak mau antre juga karena tak hormat pada orang lain. Orang sudah berbaris panjang, menunggu giliran, kita memaksa untuk memotong di bagian depan. Kita menempatkan diri sebagai orang istimewa. Memangnya kita ini siapa? Sekedar seorang manusia pongah saja.

Menyerobot anteran itu merampas hak orang lain. Itu sama saja dengan mencuri, bahkan merampok. Kenapa kita tidak malu melakukannya, di hadapan begitu banyak orang yang melihat?

Sebenarnya antre itu mudah. Terimalah kenyataan bahwa kita harus menunggu giliran, karena banyak orang yang membutuhkan hal atau barang yang sama. Sadari bahwa orang lain yang sudah lebih dulu tiba dari kita punya hak lebih dulu, dan kita tidak boleh merampas hak itu. Merampas hak orang lain adalah perbuatan memalukan yang tak ingin kita lakukan. Tentu saja kita juga tak suka bila hak kita dirampas orang. Karena itu, kita jangan merampas hak orang.

Antre itu soal menjadi orang yang sehat batin, dan efeknya adalah sehat jasmani.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password