Ilmu Kepolisian dan Lembaga Pendidikan Kepolisian, Dalam Sebuah Renungan Bagaimana Polisi Masa Depan …

cdl

Tribratanews.polri.go.id – Mabes Polri, Ribuan Sarjana Ilmu Kepolisian dihasilkan dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) yang sekarang bernama STIK (Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian). Ratusan ribu polisi dihasilkan dari SPN (sekolah polisi negara).

Banyak pemimpin-pemimpin Polri yang dihasilkan Akademi Kepolisian. Perwira-perwira handal yang dihasilkan dari sekolah inspektur polisi, sekolah-sekolah pemimpin (Pama, Pamen dan Pati) juga pusat-pusat pendidikan kejuruan. Pertanyaanya apakah dalam lembaga-lembaga pendidikan ini mengacu dan mengembangkan ilmu kepolisian?.

Pada suatu rapat yang membahas tentang kurikulum di lembaga pendidikan ada seorang senior Polisi dari SDM yang dengan lantang mengatakan tidak ada itu Ilmu Kepolisian. Spontan saya bertanya,”Apa arti PTIK Pak kalau Ilmu Kepolisian tidak ada?”.

Di Indonesia saja sudah berpuluh-puluh tahun ada PTIK dan senior tadi juga lulusan PTIK. Pada saat itu pula saya keluarkan tiga buku, yang pertama Ensiklopedia Ilmu Kepolisian (terjemahan), Ilmu Kepolisian karangan Profesor Harsya Bahtiar dan Bunga Rampai Ilmu Kepolisian Indonesia yang diedit Profesor Parsudi Suparlan.

Di Indonesia yang membahas tentang apa dan bagaimana Ilmu Kepolisian bukan Polisi dan bukan lulusan PTIK. Bahkan saat menyusun pendidikan pun gonta-ganti terus menerus tanpa berani menyebutkan Ilmu Kepolisian sebagai landasanya.

Mengapa demikian? Tidak tahukah? Tidak mampukah? Atau tidak memahami dan tidak mengerti tentang Ilmu Kepolisian? Sehingga seakan-akan menjadi tambal sulam tanpa kerangka atau acuan yang jelas.

Polisi untuk dapat menyelenggarakan dan mengembangkan profesionalismenya adalah dengan belajar atau mempelajari Ilmu Kepolisian. Ilmu Kepolisian menurut Prof. Harsya Bahtiar adalah Ilmu Multi Bidang, beberapa tahun kemudian dikritik oleh Prof Parsudi Suparlan sebagai ilmu antar bidang.

Prof Parsudi mengatakan kalau multi bidang apa epistimologi, ontologi, metodologi sampai dengan aksiologi dari Ilmu Kepolisian? Dan epistimologi, ontologi, metodologi sampai dengan aksiologinya akan tetapi mengacu pada ilmu yang digunakannya.

Antropologi Kepolisian misalnya, epistimologi, ontologi, metodologi sampai dengan aksiologinya mengacu pada ilmu antropologi. Sedangkan pada ilmu yang antar bidang, walaupun mengambil dari ilmu antropologi seperti hubungan antar suku bangsa tetapi dalam Ilmu Kepolisian bisa dimanfaatkan sebagai kurikulum atau mata pelajaran tanpa harus mengikuti epistimologi, ontologi, metodologi sampai dengan aksiologi dari ilmu pokoknya.

Ilmu Kepolisian menurut Bayley adalah administrasi Kepolisian, dan dikembangkan oleh Prof Parsudi sebagai ilmu antar bidang (interdiciplinary) yang mempelajari tentang: penataan institusi Kepolisian, masalah-masalah sosial dan penangannya, hukum, penanganan keamanan dan rasa aman masyarakat, teknik dan taktik penyelidikan dan penyidikan kejahatan (tindak pidana), maupun penegakkan hukum. Yang semua tadi ditujukan bagi terwujud dan terpeliharanya keteraturan sosial dalam masyarakat.

Sekarang ini tugas-tugas Polisi semakin berkembang yang tidak hanya bidang penegakan hukum, kriminalitas saja, tetapi sekarang berkembang juga tentang penanganan masalah-masalah sosial.

Yang penyelenggaraanya dituntut untuk cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif dan mudah diakses. Kesemuanya itu tetap sebagai upaya-upaya mewujudkan supremasi hukum, tetap memberikan jaminan dan perlindungan HAM, proaktif, poblem solving, berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Bagi para calon-calon Polisi secara garis besar ada dua jalur pembentukan dan pengembangan. Pada pembentukan ada tiga jalur;

1) untuk bintara karier melalui SPN (Sekolah Polisi Negara),

2) untuk sekolah perwira karier melalui Akademi Kepolisian,

3) untuk keahlian khusus dan pendukung melalui PPSS (Perwira Polisi Sumber Sarjana).

Untuk jalur pengembangan ada beberapa kategori yaitu;

1) SIP (Sekolah Inspektur Polisi) sebagai pendidikan alih golongan dari Bintara Polisi,

2) Pengembangan umum yang dikategorikan

a) PTIK,

b) Sespima,

c) Sespimen,

d) Sespati,

3) Pengembangan khusus yang dikategorikan untuk pendidikan-pendidikan kejuruan pada fungsi teknis Kepolisian dan pengembangan pada ilmu-ilmu lain, baik di dalam maupun di luar negeri.

Kalau kita kritisi pengkategorian pendidikan Kepolisian di atas belum mencerminkan satu garis kesatuan yang terkait satu dengan yang lainnya. Masih parsial, tidak berkesinambungan. Bahkan yang namanya Ilmu Kepolisian belum menjadi acuan atau landasan bagi lembaga-lembaga pendidikan tadi.

Tidakkah kita berani membangun dan membesarkan Ilmu Kepolisian baik dengan jalur akademis maupun jalur-jalur di bidang manajerian dan teknis Kepolisian. Pd jalur keilmuan bisakah dimulai dr SPN sbg (D1 ilmu kepolisian) yg berkait dg akademi kepolisian (D3 ilmu kepolisian), STIK PTIK ( S1,S2, & S3 ilmu kepolisian).

Sedangkan pada jalur-jalur manajerial dan teknis Kepolisian dapat dikategorikan dari SIP, Sespima, Sespimen, Sespati. Yang dapat diikuti pendidikan pada fungsi teknis Kepolisian pada pendidikan-pendidikan kejuruan. Selain itu juga masih dibuka jalur untuk mengembangkan keahlian atau kemampuan profesionalisme Kepolisian dengan pendidikan-pendidikan ilmu pengetahuan dan keterampilan lainya baik di dalam dan di luar negeri.

Dengan demikian tidak hanya dimonopoli satu jalur pendidikan saja tetapi bisa berbagai jalur dilalui. Tidak ada lagi istilah yang susah hanya masuknya, kamboing diikat juga lulus, main sodoksodokan untuk masuk sekolah, tidak lagi sekolah hanya berdasar rangking kesehatan maupun jasmani. Tidak lagi harus kasak-kusuk kesana kemari untuk sekolah. Karena jalur-jalur pengembang kemampuan SDM Kepolisan akan semakin jelas dan berdasar pada kompetensinya. Semoga.(*)

Catatan : Brigjen Pol Dr. Chryshnanda DL., M.Si. (Dirkamsel Korlantas Polri)

Editor : Umi Fadilah

Publish : Alam / Veri

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password