Proaktif Menjaga Tertib Sosial

IMG_3266

Penulis: Hasanudin Abdurakhman

Doktor di bidang fisika, lulusan Tohoku University, Jepang. Kini bekerja di perusahaan Jepang.

 

Di perempatan jalan, lampu merah menyala. Anda menghentikan mobil di sisi kiri jalan. Nanti kalau lampu sudah menyala hijau, Anda akan belok kiri. Dari arah belakang datang mobil lain, lalu berhenti di belakang Anda. Pengendaranya membunyikan klakson meminta Anda jalan terus. Kenapa? Kalau belok kori, boleh terus, tidak perlu berhenti meskipun lampu merah. Tapi di sini tak ada tanda yang menunjukkan bahwa yang belok kiri boleh jalan terus. Tidak perlu tanda, karena biasanya memang begitu.

ini adalah kejadian yang umum terjadi. Orang membenarkan yang biasa terjadi, bukan membiasakan untuk bertindak benar. Tidak di semua persimpangan kendaraan yang hendak belok kiri boleh langsung berbelok tanpa menunggu lampu menyala hijau. Ada syarat tertentu terkait keselamatan untuk menetapkan berlakunya ketentuan boleh langsung belok itu. Karena itu, yang boleh langsung belok adalah di persimpangan yang diberi tanda boleh langsung belok. Yang tidak bertanda, harus berhenti.

Banyak orang tak peduli dengan hal itu. Mereka meneror pengemudi yang berhenti saat lampu merah, dengan klakson berulang-ulang. Tak jarang pula diiringi umpatan kasar. Pengendara yang tertib harus mengalah, tunduk kepada pelanggar.

Tidak hanya soal belok kiri. Sering pula kita diteror, dipaksa jalan saat lampu masih merah, ketika kita hendak berjalan lurus. Kenapa? Di tempat itu lampu rambu biasa diabaikan. Yang patuh terhadap rambu adalah gangguan bagi yang sudah biasa melanggar.

Di jalan tol, melewati bahu jalan adalah perkara biasa. Sudah salah, pongah pula, begitulah perilaku sebagian pengendara kita. Kalau kita berkendara di jalur kiri, mepet dengan garis pembatas bahu jalan, sehingga sulit bagi mobil di belakang untuk menyalip dari bahu jalan, pengendaranya akan membunyikan klakson, menyuruh kita bergeser, agar ia bisa lolos. Seperti tadi, pelanggar dengan pongah menyuruh si tertib untuk menyingkir.

Saat kita hendak menyeberang di zebra cross, kendaraan yang lewat tak ada yang mau berhenti, meski sudah sangat jelas terlihat ada yang hendak menyeberang. Bahkan sekedar mengurangi laju kendaraan pun mereka tak mau. Akhirnya kita yang harus bersabar, menunggu jalan agak lengang, agar bisa menyeberang.

Di tengah kemacetan, ada yang memberi isyarat berganti jalur, memotong jalur di depan kita. Berdasar tata krama berbagi, kita berhenti sejenak, memberi kesempatan kepadanya untuk masuk. Lalu, apa yang terjadi? Kendaraan-kendaraan di belakangnya akan berduyun-duyun mengekor, menutup jalan bagi kita untuk maju. Jalan yang tadi kita berikan, kini jadi milik orang lain. Kita harus menunggu sampai mereka semua lewat, agar kita bisa kembali bergerak.

Di anteran panjang untuk masuk atau keluar jalan tol, selalu saja ada kemdaraan yang tak mau antre. Mereka langsung menohok ke bagian depan antrean, menyerobot masuk saat ada kendaraan lengah. Orang-orang yang tadinya antre, merasa dirugikan, lalu meniru perilaku itu. Hasilnya adalah keadaan saling serobot yang kacau.

Begitulah. Ada banyak orang yang mau tertib. Tapi ada sedikit orang yang tidak tertib. Mereka tampak diuntungkan oleh perilaku tidak tertib itu. Kita yang tadinya tertib, merasa rugi kalau terus tertib. Maka, kita pun lalu meniru, berubah menjadi tak tertib.

Dalam ranah pengembangan diri, perilaku itu disebut perilaku reaktif. Respons kita terhadap suatu keadaan, ditentukan oleh keadaan itu. Kalau orang lain tertib, saya tertib. Kalau orang lain melanggar, saya juga akan melanggar. Kita dikendalikan oleh lingkungan. Perilaku kita ditentukan oleh perilaku lingkungan.

Apa akibatnya? Semakin hari akan semakin banyak yang begitu. Orang tertib akhirnya akan jadi minoritas yang dirugikan. Bisakah Anda bayangkan masyarakat di mana para pelanggar mengendalikan keadaan? Ingat, peraturan dibuat karena diperlukan. Kita wajib berkendara di sisi kiri, agar kita tidak bertabrakan dengan kendaraan lain, misalnya. Bayangkan bila lebih banyak yang mengabaikan aturan itu, apa yang terjadi? Kekacauan.

Kita sudah sangat sering menjadi korban kekacauan itu. Sering kita mengalami kemacetan buntu, tak bergerak sama sekali. Sebabnya? Di depan sana orang saling serobot, tak mau mengalah. Sampai terjadi satu keadaan di mana kendaraan tak bisa bergerak sama sekali. Itu bisa terjadi selama berjam-jam.

Ada banyak lagi contoh keadaan, di mana kita sangat dirugikan oleh perilaku tidak tertib yang kita buat sendiri.

Apa yang seharusnya kita lakukan? Bersikap proaktif. Orang proaktif bertindak berdasar nilai yang ia anut, bukan mengikuti lingkungan. Saat lampu merah menyala ia akan berhenti, meski kendaraan lain tetap jalan. Ia tak akan melewati bahu jalan, meski banyak kendaraan lain melakukannya. Ia tak menyerobot antrean.

Apa pentingnya? Tertib itu keniscayaan. Mustahil bisa terbentuk masyarakat bila orang-orang tak tertib. Yang terbentuk hanyalah gerombolan manusia, bukan masyarakat. Yang selama ini terjadi adalah adanya orang yang berpikir, biarlah orang lain saja yang tertib. Dia ingin menjadi pengecualian. Padahal pengecualian itu tak boleh ada.

Sikap proaktif adalah satu-satunya jalan untuk memperbaiki keadaan masyarakat kita yang sedang bergeser menjadi masyarakat yang kacau ini. Kalau bukan kita yang tertib, siapa lagi?

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password