Coba Kabur Saat Ditangkap, DPO Kasus Curas Dihadiahi Timah Panas

Tribratanews.polri.go.id – Makassar Sulsel, Kejahatan jalanan berupa pencurian dengan kekerasan atau biasa disebut aksi pembegalan bukanlah hal yang asing bagi warga Kota Makassar. Terbukti saat Tim Resmob Polda Sulsel kembali meringkus seorang remaja berusia 16 tahun sebagai salah satu kawanan pelaku begal.
Pelaku berinisial As alias Anto (16) warga Maccini Raya Kota Makassar, sehari-harinya Anto bekerja sebagai buruh bangunan. Ia ditangkap Tim Resmob di Jl. Urip Sumiharjo Makassar, Jumat (28/4/17) sekira pukul 16.30 Wita.
Dari hasil pemeriksaan Anto mengakui telah beberapa kali melancarkan aksinya di Kota Makassar, setidaknya ada 9 (Sembilan) lokasi yang diakui Anto diantaranya :
1. Jl. Nipa Nipa Antang Makassar, pada bulan Mei 2015 berhasil merampas 1 unit Sepeda Motor Mio J warna merah hitam, bersama dengan Dandi, Munil, dan Ibong. Berdasarkan LP/539/V/2015/Restabes Mks/Sek Manggala tanggal 20 Mei 2015.
2. Jembatan Fly Over Makassar pada bulan Februari 2014. Berhasil mengambil 1 unit hp bersama dengan Sandio , Ato dan Sobek. Berdasarkan Lp/365/II/K/2014/Restabes Mks/Sek Kukang tanggal 25 Februari 2014.
3. Jl. Fly Over pada bulan Juli 2014. Berhasil mengambil 1 unit hp bersama Sandio dan Sobek.
4. Tkp Telkomas pada Bulan Agustus 2016, Berhasil merampas Hp Blackbarry warna hitam, Laptop Acer, bersama Iccang.
5. Tkp Paropo bulan Agustus 2016 berhasil merampas Hp Blackbarry warna putih, bersama Dandi.
6. Tkp Jl. Maccini Kebun Binatang Makassar pada bulan Agustus 2014. Berhasil merampas Hp Samsung bersama Sandio dan Sobek.
7. Tkp Jl. Maccini Kebun Binatang Makassar pada bulan Agustus 2014. Berhasil merampas dompet bersama Sandio. Ato dan Sobek.
8.Tkp Jl. Maccini Kebun Binatang Makassar pada bulan juni 2014. Berhasil merampas Hp Young bersama Sandio, Ato dan Sobek.
9. Tkp Jl. Perintis Kemerdekaan Makassar pada bulan September 2014 berhasil mengambil tabung gas dalam rumah Kos bersama Sandio dan Sobek.
Adapun modus pelaku bersama dengan rekannya melakukan curas dengan cara mengancam korban menggunakan sajam berupa busur dan badik (Senjata tajam khas Sulawesi Selatan).
Anto terpaksa dilumpuhkan karena mencoba melarikan diri dengan cara meloncat dari mobil, sebelumnya Anto diberikan tembakan peringatan selama tiga kali tapi pelaku tidak mengidahkan akhirnya dihadiahi timah panas pada bagian kakinya.
Seperti kita ketahui di Indonesia, khususnya di Kota Makassar, Sulawesi Selatan ini sangat banyak kasus kejahatan yang dilakukan oleh warga negara, khususnya oleh remaja. Kejahatan yang dilakukan seperti berbentuk tindak pidana pencurian dengan kekerasan (curas). Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan tersesat pada perilaku jahat.
Begitu juga mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut. Namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri sesuai dengan pegetahuannya. Kejahatan pencurian dengan kekerasan yang dilakukan oleh remaja disebabkan persaingan hidup yang tinggi, tingkat anonimitas perkotaan, tingkat kepadatan dan mobilitas penduduk, ikut-ikutan teman, pengaruh narkoba, dan kurangnya keteladanan yang baik dari orang tua.
Upaya yang dilakukan oleh pihak Kepolisian dalam menanggulangi kejahatan pencurian dengan kekerasan oleh remaja di bagi menjadi dua, yaitu upaya preventif (pencegahan dini) dan upaya represif (penindakan tegas).
Margaretha, Pengajar Psikologi Forensik, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya berpendapat, upaya pencegahan kejahatan anak akan lebih bermakna daripada upaya kuratif pada perilaku kejahatan anak. Karena begitu anak telah terlibat dengan kejahatan, maka ia akan berhadapan dengan hukum, untuk mempertanggungjawabkan perilakunya.
Ada beberapa program preventif yang dapat dilakukan, terutama pada anak-anak yang telah diketahui memiliki resiko melakukan kejahatan, yaitu: 1) pengelolaan kemarahan; 2) peningkatan kemampuan sosial; 3) intervensi keluarga anak dengan resiko melakukan kejahatan.
Pengelolaan kemarahan atau sering disebut sebagai anger management, bertujuan untuk mengembangkan kemampuan remaja untuk mengendalikan marah dengan relaksasi dan pengarahan diri. Biasanya hal ini dilakukan secara berkelompok, dimana masing-masing remaja yang memiliki persoalan dengan kemarahan akan saling berbagi pengalaman dan saling mendukung satu sama lain untuk mencapai pengelolaan kemarahan yang lebih optimal dan adaptif.
Program pencegahan kekerasan juga dapat dikombinasikan dengan usaha pengembangan kemampuan sosial anak. Anak diminta untuk membayangkan berbagai cara yang lebih adaptif yang dapat dia lakukan jikalau menghadapi suatu persoalan atau kesulitan. Contohnya, jika biasanya anak dengan resiko merespon problem dengan rekan sosial dengan perilaku impulsif marah dan merusak, maka mereka diminta mencari cara yang lebih positif menghadapi persoalan sosial misalkan membangun komunikasi empatik secara terbuka.
Mereka juga akan diajak berlatih untuk menjadi lebih peka dan empatik pada orang-orang di sekitarnya serta lebih mampu untuk mengkomunikasikan perasaan mereka secara terbuka tanpa harus agresif. Setelah itu, pelatih akan terus mencari cara-cara untuk mempertahankan kemampuan anak yang telah berubah menjadi lebih adaptif.
Terakhir, karena banyak pelaku kejahatan anak berasal dari keluarga yang bermasalah, maka intervensi juga perlu dilakukan. Dalam intervensi ini, seorang ahli Psikologi (terapis atau konselor), akan bekerjasama dengan keluarga untuk meningkatkan fungsi keluarga, meningkatkan proses komunikasi, membantu pembagian tugas dan peran dalam keluarga yang lebih proporsional, serta mengembangkan kemampuan menyelesaikan persoalan keluarga secara efektif.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password