Bincang Santai Toleransi Lintas Kultural ” Merajut Kebersamaan dan Toleransi dalam Keindonesiaan” di Surakarta

Tribratanews.polri.go.id. Polresta Surakarta – sebuah acara diskusi yanh menarik terkait menciptakan kedamaian di Solo. Kalau Solo.damai maka Indonesia juga damai . Kalau masyarakat damai maka kerja Polisi akan berkurang.

Diskusi atau bincang ini dilaksanakan hari Kamis tanggal 27 April 2017 pukul 12.00 s/d 16.00 wib di RM Bakso Kadipolo Lantai 2 Jl. Ronggowarsito Kel.Timuran Kec. Banjarsari . Materi Bincang Santai Toleransi Lintas Kultural ini mengambil Tema ” Merajut Kebersamaan dan Toleransi dalam Keindonesiaan” . Acara ini dipelpori oleh sdr.Mantep Riyanto, SH dengan di ikuti peserta sekitar 150 orang.

Acara ini menghadirkan tokoh terkemuka di Solo yaitu :
– Ustazd Syukur Wahyunudin ( Ketua FPI Surakarta )
– YF.Sukasno, SH ( Anggota DPRD Fraksi PDI P)
– Pdt.Amos Gunawan
– Muchus Budi Rahayu
– Mantep Riyanto SH ( Ketua Penyelenggara )

Dari beberapa tokoh tadi melontarkan pendapatnya masing-masing :

YF.Sukasno ( Anggota DPRD Fraksi PDI P ) menjelaskan :
Di Kota Solo makna toleransi Solo yaitu tidak ada persoalan untuk umat beragama, toleransi di bidang politik tidak ada persoalan, tidak ada yang mengganggu, jadi terkait toleransi di Kota Solo kita tinggal memupuk dan melanjutkan berjalan alami saja, karena masyarakat bisa memahami, ngih saya kira itu toleransi bagi saya tidak perlu diatur- atur biar jalan begini saja secara alami.

Amos Gunawan memaparkan arti toleransi :
Sebenarnya sama juga seperti apa yang diutarakan pak Sukasno dan kita patut bersyukur menjadi bagian dari bangsa yang besar dan istimewa ini di negeri yang melimpah ruah ternyata di luar negeri orang – orang sana pada ke pingin seperti negeri kita, seperti tonggak kayu jadi tanaman, kita yang ada di sini toleransi sudah baik apalagi dari paparan orang tua kita bahasa lugas dan memberi wanti- wanti terhadap persatuan, alangkah baiknya kalau saudara – saudara hidup dalam kerukunan dan di tularkan menurut ajaran kita masing – masing.

Ustadz Syukur Wahyunudin ( ketua FPI kota Surakarta ) menjelaskan ;
Saya disini tidak mewakili FPI namun mewakili Islam, islam memberikan pedoman dan kita berada di zona nyaman, di Islam kita harus menjalin sikap toleransi dengan menyambung sikap yang terputus, untuk menyambung, memang di dalam kehidupan toleransi pasti ada gesekan – gesekan kecil namun dapat kita selesaikan secara musyawarah dan kita harus menjaga dan memupuk bagaimana kita mencari cara untuk menyatukan perpecahan bukan hanya antara umat bergama namun golongan atau suku, apabila kita merasa yang paling hebat maka akan terjadi perpecahan oleh karena itu mari kita budayakan hidup toleransi di masyarakat.

Muchus Budi Rahayu juga menjelaskan sbb :
Sudah sangat gamblang sekali untuk menyimpulkan seperti orang Jawa harus sudah cukup, semua kami rangkai yaitu saya memengang semua, buka mata , semua yang kita masuk dan terima untuk menjadi Jawa, karena apa? Karena kita hidup di Jawa Indonesia dan kita punya kemampuan kepercayaan masing – masing dan tidak ada hal yang tumpah suh, kalimat Bhineka Tunggal Eka yaitu : tidak ada kalimat atau tidak ada persoalan di Indoneaia masalah keyakinan, kalau merasa yang paling benar berarti sudah syirik hati, namun di Jawa ini tidak ada permasalahan dan yang terpenting toleransi sangat utama.

Adapun Maksud dan Tujuan kegiatan Bincang Santai Toleransi Lintas Kultural yaitu :
Menggugah kembali semangat toleransi dan kebersamaan di antara sesama tokoh serta masyarakat yang mulai luntur. Membangun sikap saling pengertian dan lapang dada terhadap perbedaan dakwah atau misi agama yang di anut masing – masing.
Selama kegiatan berlangsung dengan aman nyaman dan penuh suasana kekeluargaan.

Penulis : Endang Sari
Editor   : Umi Fadilah
Publish : Sumarjo

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password