Kedubes Australia Peringati ‘ANZAC Day’ di Ambon

Tribratanews.polri.go.id – Polda Maluku – Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia dan juga sejumlah warga negara Australia mem­peringati Hari ANZAC alias ANZAC Day, di Taman Makam Perse­mak­muran atau War Ce­me­tery, di kawasan Tan­tui, Ambon, Selasa (25/4).

Hari ANZAC yang digelar setiap tahun pada 25 April, menandai pen­daratan pasukan Australia dan Selandia Baru di Gallipoli, Turki, 100 tahun lalu.

Di Ambon, diperingati de­ngan upacara subuh, dipim­pin Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Justin Lee yang berlangsung pukul 06.30 WIT. Hadir juga Atase Angkatan Laut Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, Captain Nick Hart dan Asisten Atase Angkatan Laut, Robert Pope dan Atase Pertahanan Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia Kolonel Adrian Campbell-Black.

Justin Lee bersama Nick Hart, Robert Pope, Adrian Campbell-Black, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara Pattimura Kolonel Pnb Aldrin P Mongan serta sejumlah undangan lainnya juga meletakan karangan bunga poppy merah dan rose­mary yang dibawa khusus dari Australia, pada tugu peringatan yang berada di ba­gian tengah makam perse­makmuran War Cemetery, di kawasan Tantui.

Justin Lee kepada Siwalima usai upacara tersebut men­jelaskan peringatan Anzac Day berlangsung serentak di seluruh dunia.

“Khusus di Indonesia ber­langsung di Jakarta, Ambon dan Balikpapan. Di ketiga kota ini akan makam tentara Australia. Peringatan juga berlangsung di Denpasar dan Bandung, yang walaupun tidak ada makam tentara Australia, namun komunitas warga asal Australia sangat banyak,” jelasnya.

Anzac Day, menurutnya,  diperingati setiap 25 April, sesuai tanggal pendaratan tentara Australia dan Selandia Baru di Gallipoli, Turki, pada 1915. Lebih dari 10.000 orang tentara Australia dan Selandia Baru gugur dalam selama delapan bulan di Turki pada Perang Dunia I.

Ia juga memberikan apre­siasi kepada pemerintah di Maluku maupun khususnya Kota Ambon termasuk masya­rakat yang turut serta menjaga Taman Makam Pahlawan Australia.

Secara khusus, Justin Lee yang juga Doktor lulusan Universitas Adelaide Australia ini juga bertemu dengan Sekda Maluku Hamin bin Tahir di kantor Gubernur Ma­luku. Dikatakan, saat perte­muan dibahas berbagai ke­mungkinan potensi kerjasama di bidang perikanan, pendi­dikan dan pariwisata.

“Ini merupkanan rutinitas setiap kita berkunjung ke daerah-daerah. pertemuan dibahas berbagai kemung­kinan potensi kerjasama di bidang perikanan, pendidikan dan pariwisata. Selama ini memang banyak orang Ambon yang mendapat beasiswa belajar di Australia maupun juga lomba layar Darwin-Ambon Yacht Race,” katanya.

Peringatan Anzac Day di Kota Ambon, merupakan yang kelimanya kalinya dilak­sanakan setelah yang perta­ma tahun 2013.

Pada makam Persemakmur­an tersebut teronggok ke­rangka ribuan tentara sekutu dari 6 negara. Total­nya seba­nyak 2.137 makam, terdiri dari 1.092 tentara Australia, terma­suk 694 tentara dari total dari 1.131 anggota pasukan elit batalion 21, Divisi II  Gull­Force atau pasukan infantri Australia yang gugur.

Selain itu 810 tentara Inggris, 186 Belanda, 30 India, 2 Kanada, Selandia baru dan Afrika Selatan masing-masing 1 dan 15 orang dari beberapa negara sekutu lainnya.

Di bagian depan Taman terda­pat Memorial Building Ambon. Bangunan mirip halte bus, terbuat dari beton berkualitas tinggi dengan desain eksterior berkelas.

Di kedua sisi dindingnya terpam­pang lembaran tem­baga berukuran sekira 3×2 meter persegi yang diatasnya terukir dengan huruf timbul nama tentara dan penerbang Australia yang gugur di tanah Maluku, Sulawesi dan Kepulauan sekitarnya pada saat PD II, termasuk yang tidak diketahui dan ditemukan jenasah­nya.

Setiap nama dilengkapi nomor prajurit, pangkat dan jabatan ter­akhir serta nama asal kesatuan. Dari data yang terpampang, umumnya mere­ka berasal dari Royal Australian Air Force, Ang­kat­an Udara Australia, selain bebe­ra­pa yang berasal dari kesatu­an Angkatan Laut dan Ang­katan Darat Australia.

Lokasi Taman Makam Per­semakmuran Tantui, pada saat Perang Dunia II, sebe­lum­nya menjadi menjadi markas Batalyon 2/21 Austra­lia GullForce, dan kemudian berubah menjadi lokasi kam tahanan tentara negara-nega­ra persemak­muran oleh tentara Jepang.

Batu-batu nisan berukuran sebe­sar laptop dengan tinggi hanya be­berapa sentimeter di atas tanah seolah tak terli­hat diatas hamparan rumput hijau yang dipangkas rapih. Namun ketika melangkahkan kaki ke bagian tengah barulah batu-batu nisan itu tampak bertebaran dimana-mana.

Penulis  : Siwalima
Editor    : Umi Fadilah
Publish  : Rifan Tulak

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password