Di Sinjai Seorang Paman Tega Bunuh Ponakan Sendiri

Artikel, Di Sinjai Seorang Paman Tega Bunuh Ponakan Sendiri

Tribratanews.polri.go.id – Sinjai Sulsel, Kapolres Sinjai AKBP H. Agus Dwi Hermawan, S.IK, S.H., M.Kn memimpin olah TKP (Tempat Kejadian Perkara) kasus pembunuhan yang terjadi di Dusun Lempangan, Desa Bua, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sinjai, Minggu (23/04/17).

Olah TKP itu dikawal ketat Satuan Sabhara Polres Sinjai, sedang personil Polsek Tellu Limpoe bersama unit Resmob Polres Sinjai melakukan pengejaran terhadap pelaku yang melarikan diri setelah melakukan aksinya.

Kasus pembunuhan tersebut dilakukan oleh lel. TR (45) seorang petani alamat Tombolo, Desa Sukamaju, Kec. Tellu Limpoe, Kab. Sinjai, terhadap korbannya, Jafar Als Afa Bin Maming (35), petani, alamat Dusun Tombolo, Desa Sukamaju, Kec. Tellu Limpoe, Kab. Sinjai.

Peristiwa pembunuhan ini bermula ketika pelaku yang tak lain adalah paman korban sendiri sedang mengkomsumsi minuman keras jenis ballo / tuak bersama dirumah saksi SF.

Tak lama kemudian terjadi keributan dan pelaku langsung menganiaya korban dengan menggunakan parang dan mengenai pada bagian leher korban sebelah kiri, sehingga korban mengalami luka terbuka dengan panjang sekitar 20 cm, dan lebar 5 cm yang mengakibatkan korban Meninggal Dunia ditempat kejadian perkara dan setelah kejadian pelaku langsung melarikan diri dengan barang buktinya berupa parang.

Betapa mengerikannya, bagaimana mungkin seseorang tega membunuh orang lain dengan begitu keji apalagi masih ada hubungan darah. Seolah sudah tidak ada rasa takut, hingga orang berani mengahabisi nyawa orang lain. Lalu apa motivasi dan penyebab hingga orang tega membunuh? Tentunya banyak motif hingga seseorang tega membunuh orang lain.

Dalam Islam sendiri membunuh manusia dengan tanpa alasan yang dibenarkan syariat merupakan dosa besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang dengan firman-Nya:

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. (al-Isra’/17:33).

Bukan sekedar dosa besar, bahkan membunuh jiwa manusia dengan tanpa haq (tanpa alasan yan dibenarkan syariat) termasuk dosa-dosa besar yang bisa membinasakan, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahîh :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. (HR al-Bukhari, no. 2615, 6465; Muslim, no. 89).

Dari sisi psikologis hingga kenapa orang begitu berani mengahabisi nyawa korbannya yakni diurutan pertama adanya pribadi yang terlalu obsesif , pada kondisi ini boleh dibilang biasanya dialami oleh orang-orang yang belum dewasa dan butuh perhatian lebih. Sehingga ketika mereka kehilangan rasa cinta dan kasih sayang, maka dalam pikirannya kekerasan adalah jalan terakhir untuk menyudahi semuanya.

Mereka yang terlalu Agresif juga sangat berisiko melakukan tindakan kekerasan juga pembunuhan. Seolah-olah tak ada rasa takut dalam diri mereka. Orang dengan sifat agresif cenderung spontan dan berani. Orang-orang tipe ini mudah terpancing dalam kemarahan, sehingga tak segan untuk melakukan tindakan kekerasan pada orang lain.

Orang yang Tertutup juga berbahaya. Orang dengan tipe tertutup boleh dibilang jarang berinteraksi dengan orang lain, sehingga ketika mereka kesal akan sesuatu hanya akan dipendam seorang diri. Bahayanya kemarahan yang menumpuk bisa saja meledak ketika masalah besar yang dia hadapi sudah menemui jalan buntu. Kadang kondisi demikian memaksa orang untuk berbuat kekerasan pada orang lain.

Menjadi pendendam, juga dapat memunculkan berbagai persoalan baru dikemudian hari. Ketika dia merasa disakiti maka dia dapat membalas rasa sakit hai itu dengan sesuatu yang lebih kejam dari apa yang dia alami.

Rasa Trauma yang mendalam juga dapat menyebabkan terjadi tindak kekerasan dan pembunuhan. Pengalaman-pengalam buruk dimasa lampau membuat seseorang berusaha melindungi dirinya sendiri dari hal-hal buruk yang dia anggap dapat hadir kembali di kehidupannya.

Itulah beberapa kondisi psikososial yang sangat mungkin mempengaruhi seseorang hingga akhirnya tega membunuh orang lain di sekitar mereka. Tentunya masih banyak motif pembunuhan lain. Bahkan motif politik, SARA, faktor ekonomi pun bisa menjadi faktor tindak kekerasan hingga pembunuhan, belum juga termasuk berbagai persoalam kehidupan yang bisa menjadi pemicu begitu entengnya orang tanpa rasa takut untuk membunuh sesamanya.

Penulis : Hendrik P

Editor : Umi Fadilah

Admin Polri48889 Posts

tribratanews.polri.go.id "Portal Berita Resmi Polri : Obyektif - Dipercaya - Patisipatif"

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password