Komunitas Tertib Sosial

Hasanudin Abdurakhman

 

Ketertiban sosial adalah masalah besar di negeri kita. Orang di berbagai lapisan masyarakat biasa berperilaku tidak tertib. Buang sampah sembarangan, enggan antre, melanggar berbagai aturan lalu lintas, adalah berbagai perilaku yang dengan mudah bisa akita temukan. Lingkungan kita kotor. Orang biasa membuang sampah di mana saja.Pada setiap acara yang melibatkan banyak orang, selalu tersisa sampah bertebaran.

 
Jalan raya kita semrawut. Kendaraan berlomba untuk saling mendahului, saling sodok. Tidak ada yang mau mengalah. Rambu-rambu dilanggar seenaknya. Sepeda motor menyelinap di antara mobil-mobil, dan tak jarang menaiki trotoir yang merupakan tempat bagi pejalan kaki. Di jalan protokol seperti Jl. Sudirman kita bisa menyaksikan orang-orang yang bekerja di perkantoran elit menyeberang jalan sembarangan.

 
Kenapa semua itu bisa terjadi? Pendidikan kita minus karakter. Tertib dan disiplin diajarkan hanya secara verbal dan tekstual, untuk keperluan ujian belaka. Tertib dan disiplin tidak diajarkan melalui gerak dan laku harian. Lebih menyedihkan lagi, guru-guru kita masih sangat banyak yang berperilaku tidak tertib.

 
Di rumah tangga juga begitu. Para orang tua tidak biasa tertib. Anak-anaknya sejak kecil terpapar pada perilaku tidak tertib. Lalu perilaku ini menjadi penyakit turunan yang meluas.

 
Menertibkan adalah salah satu tugas kepolisian. Mendidik masyarakat juga bagian dari tugas polisi, melalui kegiatan bimbingan masyarakat. Tapi bila perilaku tidak tertib itu terjadi secara luas dan massal, kepolisian tidak akan sanggup menertibkannya. Bimbingan masyarakat pun menjadi tidak efektif.

 
Promosi perilaku tertib harus dilakukan di akar rumput, dari masyarakat, untuk masyarakat. Harus ada banyak orang-orang yang peduli pada ketertiban, yang menjaga ketertiban pada setiap situasi. Mereka memberi contoh, mengajak orang-orang sekitar untuk tertib. Tujuannya menciptakan lingkungan di mana perilaku tidak tertib menjadi sesuatu yang memalukan, dan tidak diterima.
Selama ini kita seakan berlomba dalam perilaku buruk. Orang menyerobot jalan kita, kita tidak mau kalah, menyerobot juga. Yang tidak menyerobot akhirnya menjadi minoritas yang dikalahkan.

 

Perilaku menyerobot menjadi perilaku utama. Alhirnya semua orang jadi enggan tertib, karena tertib itu merugikan.

 
Suasana seperti itu harus dihentikan. Vektor perilaku masyarakat harus diubah arahnya ke arah masyarakat tertib. Caranya, dengan memperluas gerakan tertib sosial tadi. Kita harus menyebarkan gagasan untuk hidup tertib. Tertib itu terhormat dan indah. Sebaliknya, tidak tertib adalah perilaku memalukan dan hina. Tidak tertib itu dosa. Perilaku tertib harus menjadi kebiasaan, menggantikan kebiasaan berperilaku buruk.

 
Informasi terkait ketertiban harus terus disebarkan. Misalnya soal peraturan lalu lintas. Banyak orang tidak tertib karena tidak tahu. Sebagian besar pengguna jalan, misalnya, tidak tahu makna berbagai bentuk marka yang tertulis di permukaan jalan. Karena itu sering terjadi pelanggaran. Pada saat hujan atau melalui terowongan, banyak mobil menyalakan lampu hazard. Padahal bukan itu fungsi lampu hazard.

 
Tentu saja selama ini sudah ada berbagai komunitas tertib sosial, terutama tertib lalu lintas. Ada pula komunitas cinta lingkungan, yang kerap mempromosikan kebersihan lingkungan. Tapi gaung eksistensinya jauh dari cukup. Karena itu, perlu diperluas.

 
Ada banyak komunitas penggemar mobil atau sepeda motor. Tapi sepertinya tak banyak yang kegiatannya mempromosikan tertib lalu lintas. Alih-alih tertib, mereka malah kadang menonjolkan perilaku tidak tertib. Para pengurus dan pegiat komunitas seperti ini bisa memulai untuk mengarahkan komunitasnya menjadi komunitas tertib sosial.

 
Yuk, kita berpartisipasi.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password