Dihajar Usai Menyanyi di Pesta Pernikahan, Martono Lapor Pelaku ke Polisi

Tribratanews.polri.go.id – Bone Sulsel, Penganiayaan masih sering terjadi, ini dialami oleh seorang lelaki yang bernama Martono, 32 tahun yang beralamat di Dusun Cinnong, Desa Ujung Lamuru, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone yang dilakukan oleh lelaki Iswa Alias Ogeng, 26 tahun dengan alamat yang sama dengan korban.

Korban mendatangi Polsek Lapri untuk melaporkan kejadian yang dialaminya setelah menerima perlakuan kasar  dari pelaku dan anggota Polsek dibawah pimpinan AKP Zainuddin langsung menuju ke TKP setelah mendapat laporan dan berhasil mengamankan pelaku dan di bawa ke Polsek untuk proses selanjutnya, Senin, (17/4/17).

Kejadian penganiayaan ini berawal pada saat  korban datang ke acara pesta pernikahan di Dusun Salo Sawae Desa Patangkai Kec Lappariaja Kab. Bone. Setelah sampai di pesta korban langsung makan, setelah itu naik menyanyi di atas panggung karena kebetulan ada acara hiburan karaoke layar.

Setelah korban menyanyi, turun dari panggung dan kembali ke tempat duduk tiba-tiba pelaku mendatangi korban dan mengatakan “Apa kamu ambil di sini?” kemudian korban berdiri dan pelaku langsung memberikan hadian berupa pukulan kepada korban tepatnya pada bagian punggung sebanyak satu kali sehingga merasa sakit pada punggung lalu teman korban berdiri untuk melerainya sehingga kejadian ini tidak berlangsung lama.

Penganiayaan adalah “Dengan sengaja menimbulkan rasa sakit atau luka, kesengajaan itu harus dicantumkan dalam surat tuduhan”. Sebuah penganiayaan yang merupakan suatu tindakan yang melawan hukum, memang semuanya perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh subyek hukum akan berakibat kepada dirinya sendiri.

Mengenai penganiayaan biasa ini merupakan suatu tindakan hukum yang bersumber dari sebuah kesengajaan. Kesengajaan ini berari bahwa akibat suatu perbuatan dikehendaki dan ini ternyata apabila akibat itu sungguh-sungguh dimaksud oleh perbuatan yang dilakukan itu. yang menyebabkan rasa sakit, luka, sehingga menimbulkan kematian. Tidak semua perbuatan memukul atau lainnya yang menimbulkan rasa sakit dikatakan sebuah penganiayaan.

Oleh karena mendapatkan perizinan dari pemerintah dalam melaksanakan tugas dan fungsi jabatannya. Seperti contoh : seorang guru yang memukul anak didiknya, atau seorang dokter yang telah melukai pasiennya dan menyebabkan luka, tindakan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai penganiayaan. Karena ia bermaksud untuk mendidik dan menyembuhkan penyakit yang diderita oleh pasiennya.

Adapula timbulnya rasa sakit yang terjadi pada sebuah pertandingan diatas ring seperti tinju, pencak silat, dan lain sebagainya. Tetapi perlu digaris bawahi apabila semua perbuatan tersebut diatas telah melampui batas yang telah ditentukan karena semuanya itu meskipun telah mendapatkan izin dari pemerintah ada peraturan yang membatasinya di atas perbuatan itu. Mengenai orang tua yang memukili anaknya dilihat dari ketidak wajaran terhadap cara mendidiknya.

Oleh sebab dari perbuatan yang telah melampaui batas tertentu yang telah diatur dalam hukum pemerintah yang asalnya pebuatan itu bukan sebuah penganiayaan, karena telah melampaui batas-batas aturan tertentu maka berbuatan tersebut dimanakan sebuah penganiayaan yang dinamakan dengan “penganiayaan biasa”.

Yang bersalah pada perbuatan ini diancam dengan hukuman lebih berat, apabila perbuatan ini mengakibatkan luka berat atau matinya sikorban. Mengenai tentang luka berat lihat pasal 90 KUHP. Luka berat atau mati yang dimaksud disini hanya sebagai akibat dari perbuatan penganiayaan itu.

Penulis : Hendrik P

Editor : Umi Fadilah

publish: Hendrik P

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password