Ini Pesan Buya Syafii Maarif Saat Indonesia di Persimpangan

marif

Tribratanews.polri.go.id – Mabes Polri. Seminar dan Lokakarya “Indonesia di Persimpangan: Negara Pancasila vs Negara Agama” digelar di Hotel Aryaduta, Sabtu, (8/4).

Seminar tersebut digelar oleh Indonesian Conference of Religion and Peace (ICRP) dan Institute for Interfaith Dialogue (Interfidei), Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), Maarif Institute, Komnas HAM, Jaringan Antar-Iman Indonesia (JAII), Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan Yayasan Cahaya Guru (YCG)

Berikut petikan pidato Buya A. Syafii Maarif saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) di seminar tersebut.

“Saya bahagia di depan para idealis. Sebenarnya, sejak kita merdeka, 17 Agustus 45. Dasar Negara Pancasila tidak pernah berubah. 71 tahun merdeka, kesenjangan sosek makin tajam. Pancasila, di atas Ketuhanan YME, di bawah ada keadilan sosial. Tapi itu masih menggantung, rakyat bergumul dgn kemiskinan dan narkoba,” kata Buya memulai pidatonya.

Ada misleading fanatism. Karena kesenjangan begitu tajam, maka seperti ISIS, pengikutnya ada di sini. BNPT membina lebih dari 1000 mantan kombatan. Tapi tidak akan efektif selama nilai-nilai Pancasila di bawah tidak turun ke bumi.

“Saya lelah sebenarnya kenapa Negara sebesar ini, sebagian besar Muslim, terpecah dan saling menghujat. Suriah, Irak, Mesir dst sudah hancur. Kita boleh menyalahkan Barat tapi juga harus tahu bahwa itu bisa masuk karena kita rapuh,” keluh Buya.

Teologi maut, berani mati karena tidak berani hidup, memonopoli kebenaran bahwa di luar kami haram. Negara tidak boleh kalah. Mayoritas diam. Kita masih jauh dari Suriah, tapi harus hati-hati karena yang bertarung di sana juga banyak orang Indonesia penganut teologi maut.

“Jujur tidak kita bela bangsa ini? Sungguhkah? Itu harus datang dari hati dan akal sehat. Jangan pakai topenglah. Topeng-topeng itu sekarang dimana-mana dan merusak?”

Pendukung segala sempalan yang ingin ganti Pancasila bersuara lantang karena yang mayoritas diam. Aparat harus peka. Kalau politisi di Senayan agak sulit sekarang, walau tidak semua.

“Negara Anda, negara saya, jangan biarkan tenggelam,” tegasnya.

Editor : Umi Fadilah

Publish: Alam / Veri

Sumber : mediaindonesia.com

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password