Kompol Candra Sasongko Mengabdi Tanpa Pamrih

Tribratanews.polrio.go.id – Polda Metri, Jaya Jumat (24/03/2017)

HIDUP adalah pilihan. Ketika pilihan sudah diambil, maka totalitas pengabdian harus diwujudkan dalam karya nyata. Itulah prinsip hidup yang dipegang Kasat Reskrim di Polresta Bogor Kota Kompol Candra Sasongko. Memegang amanah sebagai pimpinan dengan segudang problematika, membuatnya harus bekerja keras memberdayakan semua potensi dan sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya.

Dengan segala potensi itu, Candra Sasongko berusaha mengoptimalkannya dengan satu tujuan memberikan pelayanan prima bagi warga Kota Hujan dari segala bentuk gangguan kejahatan atau kamtibmas. Lulusan AKPOL tahun 2005 dan sejak Januari 2017 lalu menyandang pangkat Komisaris Polisi (Kompol) dengan satu melati di pundaknya ini bercerita liku-liku kariernya di kepolisian.

“Ketika saya memilih mengabdi di insritusi Polri, maka harus siap. Sekolah di AKPOL itu enak. Serba gratis. Setelah lulus, waktunya pengabdian. Artinya jadi anggota Bhayangkara harus total,” katanya.

Disadarinya, karier dan jabatan dalam Korps Bhyangkara, bukan semata-mata kemampuan pribadi angota Polri itu, tetapi juga dukungan anak buah, pimpinan, keluarga dan Tuhan Yang Maha Esa.

“Jika kamu mau berjalan cepat, jalanlah sendiri. Tetapi jika kamu ingin berjalan jauh, jauh, dan jauh jalanlah bersama-sama. Karier saya bisa sampai Kasatreskrim dengan pangkat Kompol, karena ada peran anggota dalam menjabarkan dan melaksanakan program yang saya susun,” ucap suami dari Titin Listianawati ini.

Sejak dilantik dan menyandang pangkat Ipda, ayah tiga anak ini sudah menduduki sejumlah posisi. Mulai dari Danton Dalmas Polda Metro hingga Kanit Narkoba Polres Pelabuhan yang dijabatnya dari tahun 2006 hingga 2011. Selepas dari Polda Metro Jaya, Sasongko ditarik ke Polda Jabar. Sejak itu dia bergelut di bidang keresersean yang menangani dunia tindak kejahatan.

Selepas mengikuti PTIK tahun 2013 lalu, sulung dari dua bersaudara ini kembali ke Bogor dan mengisi posisi Kasatreskrim. “Semua posisi dan di manan saya ditempatkan punya kesan dan pesan sendiri, tapi saya lebih bahagia bekerja di bagian keresersean, kenapa? Karena saya bisa menangkap pelaku kriminal yang pastinya meresahkan masyarakat,” ujar putera Ponorogo ini.

HUKUMAN RINGAN

Bagi Candra yang lahir dan besar dari kedua orangtuanya sebagai guru SD, bekerja di keresersean itu harus tuntas, cerdas, dan iklas. Hukuman bagi pelaku kejahatan yang ringan, sangat membuka peluang untuk kembali melakukan tindakan kejahatan, manakala yang bersangkutan keluar penjara.

“Contoh, kejahatan pencurian kendaraan. Kejahatan jenis ini sudah menjadi profesi turun temurun. Mereka akan kembali beraksi, usai bebas penjara, karena hukumannya ringan. Penjahat sering berlindung pada suatu komunitas yang dianggapn mereka sebagai dewa. Kenapa? Karena mereka sering berbagi dari hasil kejahatan yang mereka dapat,” jelasnya.

Ia bertekad, seiring kenaikan status Polres Kota Bogor menjadi Polresta Bogor Kota pada akhir tahun 2016 lalu, berupaya menjadikan anggotanya sebagai Korps Bhayangkara profesional, modern, terpercaya, bekerja dengan fakta dan tanpa pamrih. “Saya tak main-main, jika anggota menerima suap atau apapun sebutannya dalam menangansi sebuah kasus misalnya, akan ditindak sesuai tingkat pelangarannya,” tandasnya.

KULTUR BUDAYA

Diakuinya, kultur budaya anggota Polri masih harus dibenahi dan terus mereposisi diri. Kenaikan tipologi di tengah kekurangan SDM, menjadi perhatian serius saya. Pembentukan Tim Alfa Force (TAF) adalah satu terobosan dalam menyikapi dinamika Kamtibmas serta tingginya potensi kriminal di Kota Bogor,”ujar Candra.

Keberhasilan mengungkap 36 korban trafiking di Jakarta, Palembang dan Papua serta memenjarakan istri Jenderal (Purn) polisi karena terlibat penyekapan dan penjualan 16 pembantu rumah tangga asal NTT, merupakan beberapa keberhasilanya dari sekian banyaknya buah kerjas keras Candra.

Di penghujung cerita, Sasongko mengutip petuah orangtuanya. “Jjangan berobsebsi menjadi kaya, tapi jadilah dirimu bahagia. Sehingga setingi apa pun pangkat dan jabatan yang telah kamu raih, orang tidak akan menilai harganya, tapi hasil karyanya,” tutupnya.

Penulis : angga
Editor : Umi Fadilah
Publish : rimi

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password